Rabu, 16 Januari 2008

Buku, Perpustakaan dan Kita

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-Mulah yang maha Mulia. Yang mengajar
manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(Surah Al ‘Alaq, 96:1-5)

Inilah wahyu pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW yakni *Iqro!*(Bacalah!). Tersirat bahwa aktivitas membaca adalah hajat manusia sepanjang zaman. Hajat yang mesti dipenuhi dengan memadai demi keparipurnaan manusia sebagai *khalifah fil ardh* (pemimpin di muka bumi). Tak heran bila para pemimpin dunia maupun tokoh-tokoh terkemuka yang kita kenal adalah orang-orang yang gemar membaca. Misalnya, Bung Hatta, yang ketika diasingkan ke Pulau Banda tak lupa membawa serta satu lemari besar buku-bukunya.Abraham Maslow, sang psikolog Amerika yang menggagas teori hirarki
Kebutuhan adalah anak yang besar di perpustakaan semasa kecilnya karena ia
Dikucilkan dari pergaulan karena tampangnya yang tidak keren. Namun, amat disayangkan budaya baca bangsa Indonesia secara umum belum setara dengan kegemaran masyarakatnya nonton dan *ngobrol*. Terlepas dari besarnya pajak buku dan variatifnya acara TV minat baca masyarakat memang relatif menyedihkan. Membludagnya pengunjung pameran buku dalam sebuah *event* tertentu mungkin sebuah pengecualian. Tetapi dalam keseharian budaya * ngobrol* masih sangat dominan. Sangat jarang, misalnya, di tempat-tempat
umum kita jumpai orang duduk membaca sambil menunggu kereta atau bus.
Kalaupun ada, umumnya para pelajar atau mahasiswa yang *kebelet* ujian.
Selebihnya hanyalah obrolan *ngalor-ngidul* yang kita lakukan.

Padahal sejarah mengajarkan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang yg gemar membaca. Karena otomatis kecerdasan dan wawasan iptek kian bertambah sehingga terjadi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang diperlukan untuk upaya pembangunan yang berkesinambungan. Marilah berkaca pada Jepang yang pada masa Restorasi Meiji (tahun 1800-an) melakukan program penerjemahan buku besar-besaran. Buku-buku yang pekan ini terbit di Amerika, negara adikuasa yang mengalahkan sekaligus menjadi induk semang Jepang pasca Perang Dunia II, pada pekan berikutnya sudah terbit di Jepang dalam versi terjemahannya. Alhasil, Jepang sangat cepat menyerap teknologi dan
inovasi mutakhir dari negara-negara Barat dan tumbuh pesat setelah luluh-lantak dibom atom pada 1945 menjadi pesaing ekonomi Amerika mulai 1960an hingga saat ini. Lantas, jika tingginya tingkat minat baca terkait erat dengan kualitas SDM, patutlah kita merenung apakah masyarakat kita dapat digolongkan sebagai *reading society* (masyarakat yang membaca) seperti negara-negara maju yang kerap kita jadikan rujukan?

Perpustakaan
Setali tiga uang dengan nasib buku, perpustakaan tampaknya belum populer di mata masyarakat. Dapat dibandingkan, misalnya, frekuensi kunjungan anak muda sebagai tulang punggung bangsa ke *mall* atau rental *playstation*dibandingkan ke perpustakaan, yang mana yang lebih tinggi? Atau berapa banyak koleksi kaset lagu yang mereka miliki dibandingkan koleksi buku?

Beberapa tahun lalu, Prof. Andi Hakim Nasution dalam salah satu tulisannya pernah merasa iri luar biasa ketika beliau mengunjungi sebuah kampus di Malaysia dan menginap di dalam lingkungan kampus. Pakar statistika ini mendengar derap kaki serombongan mahasiswa yang baru pulang dari perpustakaan universitas pukul 12 malam. Tulisnya, pernahkah hal ini terjadi di perpustakaan universitas di Indonesia?

Di samping itu, selain “rabun membaca dan lumpuh menulis”—meminjam Istilah penyair Taufik Ismail—kita juga tak cakap merawat dan mengabadikan karya-karya besar cendekiawan dan pujangga masa lalu. Contohnya, bila kita ingin menelusuri khazanah keilmuan masa lalu yang lebih banyak tertulis dalam aksara Arab Melayu atau Arab Jawa, kita mesti terbang ke Universitas Leiden di Belanda yang koleksi naskah kuno asal Indonesianya mencapai 1650 manuskrip dalam kondisi asli yang terawat baik. Bandingkan dengan koleksi naskah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang berjumlah 955 buah dan sebagian besar dalam bentuk fotokopian.

Tak heran jika hasil penelitian tim dari Universitas Indonesia (UI) pada 1995 mengungkapkan sekitar 20% dari 1500 naskah beraksara Arab Melayu di Kesultanan Cirebon hancur dan tak bisa dimanfaatkan lagi. Di Kesultanan Yogya, 10 persen naskah kuno beraksara Arab Jawa rusak. Padahal di masa lalu, saat kejayaan Kerajaan Demak maupun Samudra Pasai yang bahkan disegani Kerajaan Inggris dan Turki, aksara Arab Melayu berperan besar menjadi bahasa pendidikan dan literasi di Nusantara baik agama maupun permasalahan umum yang melahirkan demikian banyak ulama berkaliber internasional dari Indonesia yang berkibar di dunia Islam.

Syekh Yusuf yang menyebarkan Islam di Afrika Selatan dan diangkat sebagai pahlawan nasional negara tersebut oleh Presiden Nelson Mandella dan Syekh Nawawi Al Bantani, sang putera Banten yang menjadi salah satu imam Besar Masjidil Haram dan guru para syekh di Mekah adalah sebagian kecil contoh coretan tinta emas sejarah tersebut. Termasuk tokoh-tokoh perjuangan bangsa yang dibesarkan dengan pola pendidikan beraksara Arab Melayu seperti Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Mohammad Natsir atau Haji Agus Salim.

Air mata ini akan kian deras mengucur bila kita kian dalam berintrospeksi diri. Teramat suram masa depan bangsa jika kita terutama generasi muda sebagai tulang punggung bangsa buta sejarah keilmuan masa lalu atau gagap mengejar kemajuan teknologi mutakhir hanya karena malas membaca. Kita tak bakal bisa menjadi majikan di rumah sendiri jika kondisi ini stagnan bahkan saat globalisasi besar-besaran pada penghujung 2010 kelak. Kita hanya akan jadi babu di dapur rumah sendiri atau terus-terusan mengekspor TKI ke luar negeri. Kita hanya akan jadi—meminjam istilah Bung Karno—*nation of coolie*, bangsa kuli. Relakah kita?

Pemerintah sudah wajib hukumnya mengeluarkan sekaligus mengaplikasikan (ini yang penting!) kebijakan yang mendorong tumbuhnya minat baca masyarakat—seperti janji-janji kampanyenya untuk memperhatikan pendidikan—seperti kebijakan *intellectual tax* (pajak intelektual) yakni pemberlakuan pajak khusus untuk buku dan materi-materi intelektual lainnya dengan persentase rendah bahkan nol persen. Langkah ini pernah diterapkan Presiden Soekarno yang pecinta buku semasa Orde Lama.

Sepertinya langkah tersebut masih terkesan “mewah” di tengah kondisi APBN yang sempoyongan dihajar krisis energi dunia dan korupsi serta lilitan hutang negara. Namun gebrakan jaringan perpustakaan pemerintah di DKI Jakarta termasuk Perpustakaan Umum Daerah Soemantri Brojonegoro di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, untuk buka dan melayani masyarakat hingga pukul delapan malam *non-stop* tanpa libur termasuk hari Ahad patut diapresiasi sebagai langkah awalnya. Jam buka perpustakaan yang panjang memang sedikit banyak dapat memfasilitasi minat baca masyarakat terutama kalangan pekerja yang tak punya banyak waktu di hari kerja. Minimal langkah tersebut berguna sebagai awal menipiskan ketertinggalan kita dengan negara jiran kita seperti Malaysia dan Singapura. Pemda DKI juga belum selayaknya berpuas diri karena masih banyak hal yang perlu dibenahi seperti infrastruktur dan fasilitas pendukung seperti jaringan internet, katalog, pusat edukasi buku yang memadai serta promosi luas di semua kalangan masyarakat tentang keberadaan dan layanan perpustakaan.

Gebrakan lain adalah inisiatif dari kalangan praktisi perbukuan yang berkolaborasi dengan pemerintah untuk mengelola sebuah perpustakaan Library@Senayan (hibah dari perpustakaan *British Council*) di gedung Departemen Pendidikan Nasional, Jl. Jendral Sudirman, yang memnberikan layanan lengkap dari buku-buku berbahasa asing sampai peminjaman materi audio-visual. Inilah kesempatan luas bagi warga khususnya DKI Jakarta untuk mengakses bahan bacaan gratis—yang merupakan hak mereka sebagai pembayar pajak–di tengah tingginya harga-harga barang.

Semoga saja dengan adanya otonomi daerah yang *notabene* lebih Kompetitif para pejabat pemerintah daerah lain di Indonesia merasa “cemburu”. Bentuk kecemburuan inilah yang diharapkan dapat merangsang inisiatif serupa di daerahnya masing-masing. Ini bukan masalah dana sesungguhnya. Ini masalah kemauan. *When there’s a will there is a way. *APBD DKI Jakarta bukan yang terbesar di Indonesia. Ada banyak provinsi lain bahkan kabupaten seperti Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur—dengan kekayaan sumber daya alamnya–yang jauh lebih besar yang lebih memadai untuk menyediakan perpustakaan-perpustakaan yang representatif bagi publik. Masalahnya adakah kesadaran politik mereka untuk menghapus sindiran salah seorang mantan presiden sebuah negara di Afrika bahwa “pemerintah selalu punya uang untuksepatu orang kaya namun selalu pailit untuk periuk nasi (baca: hajat hidup) orang miskin”?

Jika seruan ini sayup-sayup saja di telinga mereka atau justru hanya bergema sia-sia, marilah kita mulai dari diri sendiri, saat ini dan dari yang kecil. Misalnya, kita bangun perpustakaan pribadi di rumah dengan seberapapun jumlah buku yang ada atau bergabung dengan komunitas buku yang kerap punya acara menyumbangkan buku bagi kalangan tak berpunya. Keberadaan sebuah Pondok Baca atau apapun namanya adalah hak mendasar peradaban manusia. Karena, seperti kata Mark Twain, orang yang bisa membaca tapi tidak
Membaca buku sama nilainya seperti orang yang buta huruf. Pepatah Cina mengatakan, “Jangan mengutuk kegelapan. Mulailah dengan menyalakan sebatang lilin.”
*

*) dengan sedikit revisi, tulisan ini pernah dimuat di situs
www.rumahdunia.net.
http://jaen2006.wordpress.com/2007/05/10/buku-perpustakaan-dan-kita/#more-70

NAPAK TILAS PERPUSTAKAAN ISLAM

NAPAK TILAS PERPUSTAKAAN ISLAM
April 14, 2007

Oleh: M. Djaenudin

Islam adalah agama yang menaruh perhatian besar pada tulis-menulis sejak awal mulanya. Keterlibatan inilah yang mendorong cepatnya Islam menyebar ke daerah-daerah yang kaya akan buku dan perpustakaan kuno. Mereka menemukan papyrus (lontar) dari Mesir dan menggali naskah-naskah kuno di daerah-daerah Telloh, Ur, Warka, Niniveh. Ugarit dan yang paling akhir Ebla yang terletak di wilayah Mesopotamia dan Mesir pada sekitar 2000 - 3000 SM. Mereka menemukan pula Perpustakaan Agung (Great Library) di Alexandria yang paling terkenal pada dunia kuno dimana sedikit banyak merupakan bentuk dasar perpustakaan yang ada sekarang. Memang tidaklah mengherankan apabila kecintaan pada buku menjadi karakteristik dunia Islam sejak masa awalnya karena per buatan itu yang disertai dengan pendirian banyak perpustakaan dianggap sebagai per- buatan amal shalih dan amat terpuji. Tapi amat disayangkan perpustakaan pada tahun-tahun permulaan Islam tidaklah banyak diketahui sampai dengan dikenalnya kertas dari Cina. Pengolahan kertas yang jauh lebih murah ketimbang papyrus yang sudah mulai langka membuat jumlah sirkulasi buku menjadi berlipat karena otomatis harga buku turun drastis. Akibatnya perpustakaan di dunia Islam dapat memiliki puluhan sampai ratusan ribu buku sedangkan perpustakaan di Dunia Barat hanya mempunyai puluhan atau ratusan buku saja pada waktu yang sama. Perpustakaan besar Islam yang pertama didirikan pada awal abad IX M oleh Khalifah Harun Al-Rasyid. Perpustakaan itu dikenal dengan sebutan “Dar al Ulum” atau “Bait al-Hikmah” yaitu suatu lembaga menyerupai universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan belajar, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting. Karena alasan ini dan terbuka bagi semua orang yang cakap menggunakannya, Baitul Hikmah telah mendatangkan efek yang panting bagi kehidupan intelektual waktu itu serta menjadi referensi umum. Bahkan Raja Louis XI dari Perancis sewaktu dalam perjalanan Perang Salib, mendapat ide dari pemikiran perpustakaannya yang pertama di Paris, yang merupakan cikal-bakal dan “Bibliotheque Nationale” masa kini itu dari perpustakaan-perpustakaan Islam di kawasan Laut Tengah. Akan tetapi perpustakaan itu baru terwujud beberapa abad kemudian. Perpustakaan Baitul Hikmah bukanlah satu-satunya di Baghdad. Pada tahun 1258 ketika kota itu diporak-porandakan oleh Mongol, ada 36 perpustakaan yang tercatat oleh para ahli sejarah. Tapi selanjutnya Baghdad menderita kemunduran. Perpustakaan Baitul Hikmah segera digantikan oleh kota-kota penting di Mesopotamia, Syria. Asia Tengah, Mesir dan Iran. Sejarawan Al-Maqrizi memberikan gambaran tentang pendirian kembali perpustakaan dengan nama yang sama di Kairo pada tahun1004 M. Pada tanggal 8 Jumadits Tsani 395, gedung yang bernama Baitul Hikmah dibuka. Para siswanya menetap disitu untuk belajar. Buku-bukunya dipinjam dari perpustakaan-perpustakaan di istana tempat kediaman para khalifah dinasti Fatimiyah. Siapa saja diperbolehkan untuk mengkopi buku yang diinginkan atau membaca buku di perpustakaan tersebut. Para siswanya mempelajari Al-Qur’an, astronomi, tata bahasa, lexicography dan obat-obatan. Selain itu gedung tersebut diperindah dengan karpet sedang seluruh pintu dan koridornya berkorden. Para manager, pegawai, portir (penjaga pintu) dan pekerja kasar lainnya ditunjuk untuk memelihara keberadaan Baitul Hikmah Menurut Al-Maqrizi anggaran pemeliharaan mencapai 257 dinar pertahun yang meliputi permadani, kertas, gaji pegawai, air, cinta dan pena, perbaikan-perbaikan dan sebagainya. Kertas, pena dan tinta disediakan cuma-cuma bagi para siswa hasil wakaf dan para dermawan. Ibnu Al Furat, misalnya, yang meninggal pada tahun 924 M, mengatakan bahwa pada masa-masa terakhir jabatannya ia memikirkan murid-muridnya. Katanya “Barangkali mereka tidak mampu mengeluarkan uang sebesar satu sen-pun atau bahkan kurang dari itu untuk membeli tinta dan kertas, maka sudah menjadi kewajiban saya membantu dan menyediakannya”. Dan untuk ini ia mengeluarkan 20.000 dirham dan kantong dompetnya sendiri. Pena dan tinta juga diperlukan oleh penyalin yang menulis kopian-kopian baru, mengganti halaman-halaman buku yang hilang, dan melengkapinya jauh lebih bagus dari fungsi mesin fotokopi sekarang. Tenaga ahli penyalin ini (berbeda dengan kaligrafer yang bisa ditemukan di seluruh pelosok dunia Islam) masih dapat dijumpai di Kairo sampai pada awal abad ini di Ethiopia kurang lebih tiga dasa warsa yang lalu. Ahli-ahli tulis ini sangat menentukan pada masa sebelum ditemukannya mesin cetak. Mereka bertanggung-jawab atas kelangsungan dan ketelitian dan berbagai buku yang diberikan. Mereka kadang kadang bekerja sendini, terkadang berkelompok menyalin buku secara diktasi, sehingga menghasilkan satu macam buku. Yang menarik, wanita tidak dilarang melakukan jenis pekerjaan ini. Menunut Ibnu Khallikan, orang yang bertugas membagikan buku kepada penyalin di perpustakaan Baitul Hikmah Baghdad adalah seorang wanita negro bernama Tawfiq. Beberapa perpustakaan punya banyak ahli tulis. Perpustakaan di Tripoli, misalnya, konon memiliki 180 ahli tulis yang bekerja 24 jam penuh dengan 30 orang tiap shiftnya.

Bagaimana model perpustakaan-perpustakaan itu? Jelas berbeda dengan perpus takaan yang ada sekarang. Hal tersebut terbukti dan hasil penelitian terhadap beberapa perpustakaan masjid tradisional di Kairo atau Tunis umpamanya. Al-Maqrizi menuturkan pada kita mengenai perpustakaan di Shiraz. Perpustakaan itu terdiri dan satu ruang berkubah panjang yang berhubungan de- ngan ruang-ruang penyimpanan buku. Penguasa membangun tangga-tangga dari kayu berhias kira-kira setinggi orang dengan lebar 3 yard, yang mempunyai rak-rak dan atas sampai bawah di sepanjang ruang besar dan ruang-ruang penyimpanan buku tersebut. Buku-bukunya disusun di atas rak dan masing-masing rak memiliki tangga tersendiri. Juga tersedia katalog dari seluruh judul buku yang ada. Hanya orang yang terdaftar sebagai anggota yang diperbolehkan masuk ke perpustakaan ini Gambar-gambar masih relatif jarang terdapat di perpustakaan walaupun orang-orang Asia sudah umum membaca buku. Ada satu gambar yang cukup terkenal yaitu gambar dinding perpustakaan umum, mungkin di Mosul pada manuskrip A1-Hariiri. Para sejarawan Arab telah berupaya merinci volume perpustakaan-perpustakaan itu. tapi susah dipahami. Misal kalau dikatakan bahwa perpustakaan di Tripoli memiliki secara pasti 3 juta buku, apakah maksudnya 3 juta judul buku yang berbeda atau 3 juta jilid. Karena terkadang satu buku terbagi menjadi beberapa jilid. Lagi pula ada kemungkinan banyak kopian dan buku yang sama. Sebagai contoh, sebuah perpustakaan di Mesir memiliki sampai 30 buah salinan kamus Al-Khalili, 20 tarikh Al-Thabani dan 2400 Al-Qur’ani. Yang lebih membingungkan seringkali digunakan ukuran muatan unta, hingga susah untuk dihitung secara tepat. Misalnya sebuah perpustakaan pribadi disebutkan mempunyai koleksi sebanyak 700 muatan unta dan perpustakaan yang lain 400 muatan unta. Ibnu Khaldun pernah mengingatkan bahwa orang Islam di Spanyol khususnya amat kaya akan buku-buku dan perpustakaan. Dan di seluruh Andalusia, kota Cordova-lah yang paling mashur. Ibnu Rusyd sendiri pemah berujar: “Jika seorang terpelajar meninggal di Seville, maka orang akan membawa koleksi bukunya ke Cordova untuk dijual dimana buku-buku itu akan memperoleh harga tertinggi. Dan sebaliknya bila seorang musikus meninggal di Cordova, orang akan pergi ke Seville untuk menjual alat-alat musiknya”. Tentu saja tidak semua perpustakaan itu bersifat umum. Orang-orang kaya di seluruh dunia Islam mempunyai koleksi-koleksi pribadi. Hal ini membuat para siswa banyak yang mengeluh seperti halnya Seneca seribu tahun sebelumnya di Roma. Keluhan ini disebabkan karena tirnbulnya kebiasaan membali buku “bukan untuk dipelajari atau di baca melainkan cuma untuk hiasan belaka”. Orang-orang kaya itulah yang telah merubah beribu-ribu buku dengan jilidan dan judul buku yang sangat menarik yang membuat harga buku melejit tak terjangkau kantong para siswa dan pencinta buku yang benar benar. “Perpustakaan sekarang juga telah menjadi sate bagian dekorasi dalam rumah yang penting seperti kamar mandi atau sauna, “demikian Seneca lagi. Pendapat serupa dikemukakan oleh sejarawan Al Mas’udi dan lainnya. Barangkali cukup mengherankan bahwa di perpustakaan-perpustakaan Islam, buku bukunya dapat dipinjarnkani. Sedang di Barat hal tersebut sering menimbulkan masalah. Peraturan Benedictines of Abindon pada akthir abad XII M menyatakan bahwa perpustakaan tidak diperkénankant meminjamkan buku apapun kecuali dengan agunan yang bernilai sama atau lebih besar dan buku yang dipinjam itu. Seorang pustakawan dari Aleppo waktu yang sama xnengungkapkan dengan nada yang lebih mantap: ‘Jangan sekali-kali meminjamkan buku kecuali setelah Anda memberikan alasan dan dia tetap mau meminjam. Ambillah agunan untuk pinjaman itu karena hal itu merupakan satu-satunya cara untuk bersandiwara. Jika Anda tidak memperhatikan kata-kata saya, tentu Anda akan kehilangan buku!” Seorang ahli sejarah dari perpustakaan Damaniyah di Merv bernama Yaqut pernah mengatakan dengan menarik: “Tak pemah ada kejelasan atas 200 jilid buku atau lebih yang dipinjam dan rumahku dan saya tak pernah meminta borek meskipun nilai buku-buku itu mencapai 200 Dinar’. Apabila bilangan itu benar, ini menunjukkan seberapa banyak buku-buku itu turun selama kurun waktu 300 tahun. Perpustakaan telah didirikan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kepala Negara, Menteri, Qadhi, orang-orang kaya dan lain-lain serta perempuan yang bersemangat, rakyat biasa dan pedagang. Kondisi beberapa perpustakaan cukup ekstentrik, seperti yang didirikan oleh sejarawan besar Rasyid Al-Din, dipinggiran kora di Tabniz yang sangat memperhatikan pemeliharaan hasil-hasil penelitiannya sendiri. Perhatiannya itu memang kelihatan berlebihan, tetapi ia telah melihat begitu banyak pertikaian dan perusakan yang diperburuk oleh serangan bangsa Mongol di Timur dan bangsa Barbar di Barat serta penaklukan kembali (reconquista) di Spanyol. Beberapa perpustakaan ada yang masih bertahan hidup atau dibangun kembali, seperti perpustakaan-perpustakaan di Makkah, Madinah serta di Universitas Al-Azhar Kairo. Banyak perpustakaan baru kemudian juga didirikan di negeri-negeri Islam baru di Moghul dan Ottoman Turki. Proses ini masih terus berlangsung sekarang, khususnya pada universitas-universitas di Saudi Arabia dan negara negara Teluk lainnya. Pakistan, Indonesia dan Malaysia. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh jaen2006
Disimpan di Kepustakawanan
http://jaen2006.wordpress.com/2007/04/14/napak-tilas-perpustakaan-islam/#more-65

AKUKAH PUSTAKWAN ITU?

AKUKAH PUSTAKWAN ITU?

Juli 17, 2007

Oleh: M. Djaenudin

Tulisan ini adalah pemenang ke-2 lomba karya tulis atau opini yang diselenggarakan oleh PDII-LIPI dalam rangka ulang tahunnya ke-42 (1 Juni 1965 - 1 Juni 2007).

Ketika penulis diminta untuk menyampaikan masukan terhadap institusi PDII, dalam benak yang ingin saya sampaikan adalah sekitar kebijakan-kebijakan, citra PDII, sampai kepada masalah kesejahteraan. Begitulah kiranya yang ingin saya sampaikan, namun dalam kesempatan ini saya hanya ingin mencukil sedikit dari aspek profesionalisme pustakawan teman-teman sejawat.Terus terang pada awalnya penulis menjadi seorang pustakawan sebagai profesi pilihan dilatarbelakangi oleh keberadaan saya ketika mulai masuk PDII ditempatkan di unit kerja perpustakaan dan itu tidak secara otomatis menjadi seorang pustakawan. Hal tersebut karena terhambat oleh Surat Keputusan MENPAN Nomor 18 Tahun 1988 yang direvisi melalui Surat Keputusan MENPAN Nomor 33 Tahun 1998, mewajibkan seorang pustakawan adalah pegawai yang berijazah sekurang-kurangnya Diploma II atau Sarjana Muda. Lain halnya dengan teman-teman generasi awal yang menjadi pustakawan pertama kali melalui proses inpassing. Walaupun pegawai berijazah SLTA dan sudah berpangkat/golongan Pengatur Muda Tk. I-II/b, maka pada saat itu bisa mengajukan sebagai pustakawan. Berutunglah teman-teman yang termasuk melalui proses ini. Dewasa ini tercatat sekitar 4.000–5.000-an pustakawan fungsional, namun 60-70 % merupakan pustakawan inpassing. Ini berarti bahwa, mereka belum mengenyam pendidikan formal pustakawan sebagaimana disyaratkan oleh perundang-undangan. Penulis sendiri akhirnya bisa menjadi pustakawan melalui proses yang panjang setelah memperoleh ijazah Diploma II Ilmu Perpustakaan dan memperoleh tunjangan gaji fungsional pustakawan.Memiliki profesi yang jelas di PDII tempat kita bekerja mestinya menjadi sebuah obsesi semua karyawan, pustakawan adalah salah satu jabatan profesional. Karena dalam pembinaan pegawai negeri salah satu cara adalah melalui jenjang fungsional atau jabatan profesional. Di PDII sendiri pada dasarnya untuk memperoleh jabatan fungsional sangat terbuka. Saat ini sudah ada 7 jabatan fungsional di PDII yaitu pustakawan, peneliti, pratana komputer, pranata humas, arsiparis, analis kepegawaian, dan perencana. Kita bisa memilih jabatan fungsional mana yang menjadi obsesi kita. Tentunya tinggal bagaimana minat dan dedikasi para karyawan dan perhatian dari pimpinan untuk terus memperhatikan para karyawannya sebagai wujud dari tugas dan tanggung jawabnya.

Realita Pustakawan Kita

Menjadi pustakawan yang ideal adalah tuntutan jika kita ingin dikatakan sebagai seorang profesional dan tentunya yang sesuai dengan standar profesi itu sendiri. Namun terkadang di lapangan banyak dijumpai para pustakawan masih belum menunjukkan sikap dan kompetensi yang memadai. Di mana pengetahuan, sikap, dan keterampilan masih jauh dari harapan sebagai pustakawan yang ideal.Membangun Pustakawan yang ideal bisa kita ibaratkan seperti akan membangun sebuah rumah maka, yang pertama adalah fondasi yang kuat, tiang-tiang pemancang, tembok, pintu, jendela, dan atap sebagai penopangnya. Demikian juga dengan profesi pustakawan, banyak unsur yang harus dibangun oleh seorang pustakawan. Dalam perpustakaan ada unit kerja seperti pengadaan, pengolahan bahan pustaka, dan pelayanan atau jasa pembaca sesungguhnya adalah cerminan dari unit rumah yang akan kita bangun dari satu kesatuan yang utuh dari kerja seorang pustakawan. Ini berarti bahwa, kita sebagai pustakawan seharusnya bisa menguasai seluruh aspek pekerjaan yang ada pada unit-unit bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi.Jadi di sini tidaklah adil kalau seorang pustakawan hanya bisa menguasai bidang pekerjaan unit tertentu saja. Sungguh sangat disayangkan manakala ada seorang pustakawan ketika sudah menjelang pensiun atau sudah pensiun hanya bisa melakukan pekerjaan seperti penelusuran, selving, label, atau ngentri saja. Ironisnya pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Inikah yang disebut dengan profesional?. Atau pertanyaan lain, akukah pustakawan itu?. Dapat dibayangkan apabila kita mengaku seorang pustakawan kemudian di suatu saat ada teman atau instansi membutuhkan pertolongan tenaga kita untuk mengelola perpustakaan di rumah/kantornya, kemudian kita dengan ringan kata mengatakan “tidak bisa” lantaran tidak siap untuk mengerjakannya. Sungguh hal ini sangat naif. Seharusnya tawaran itu harus kita sambut dengan senang hati. Bahkan kita bangga karena bisa membantu mereka mengerjakan dan mengelola sebuah perpustakaan.Perlu diingat bahwa, profesi pustakawan sebetulnya tidaklah berbeda dengan profesi-profesi lain seperti guru, dosen, bidan, dokter, atau yang lain karena profesi pustakawan sekarang sudah mulai dikenal dan diakui di masyarakat dan negara kita. Sayangnya citra pustakawan belum sejajar dengan profesi yang lain.

Solusi dan Saran

Masalah di atas merupakan gambaran keinginan penulis yang pada saat ini masih jauh dari harapan, karena selama kurang lebih 17 tahun bekerja hanya di salah satu unit kerja bagian dari unit perpustakaan sehingga belum bisa menguasai pekerjaan bidang perpustakaan secara keseluruhan. Oleh karena itu ada beberapa saran dari penulis yang mungkin sebagai solusi kepada khususnya para pengambil kebijakan di PDII. Pertama adalah: Secara beraturan hendaknya rotasi karyawan diadakan. Paling sedikit 5-7 tahun sekali diadakan rotasi karyawan dari unit kerja satu ke unit kerja yang lain. Hal ini dimaksud di samping untuk penyegaran juga bisa meningkatkan kinerja karyawan serta diharapkan bisa menguasai unit kerja yang lain dalam bidang terkait profesi pustakawan. Usaha ini sebenarnya untuk mengantisipasi supaya tidak terjadi lagi kejenuhan atau ketika seorang pustakawan menjelang pensiun/pensiun hanya bisa melakukan unit kerja tertentu. Langkah secara beraturan merotasi karyawan, diharapkan juga supaya tidak ada lagi ketimpangan penguasaan materi pekerjaan tertentu, sehingga proses menuju profesionalisme dengan cepat terlaksana. Sebagaimana motto LIPI dengan TOP-nya yaitu, togetherness, openness, dan profesionalism menjadi kenyataan bukan hanya menjadi slogan belaka. Apalagi tema HUT PDII tahun ini adalah “42 tahun PDII LIPI: bersama kita tingkatkan profesionalisme dan layanan prima dalam rangka menyongsong masa depan yang kita dambakan”. Bagaimana bisa meningkatkan profesionalisme dan layanan prima, kalau kita tidak bisa menguasi bidang pekerjaan yang sedang kita geluti. Kedua: Aspek profesionalisme perlu lebih ditingkatkan, terutama berkaitan dengan citra pustakawan yang saat ini belum sejajar dengan profesi lain. Sebagaimana kita ketahui bahwa, dewasa ini ada sekitar 16 jabatan fungsional yang diakui oleh pemerintah, namunn belum sejajar kedudukannya antara jabatan fungsional yang satu dengan yang lain. Baik dari aspek volume pekerjaan maupun tunjangan gaji. Hal ini diperlukan kerja ekstra bagi pustakawan untuk berpacu meningkatkan kemampuan baik kualitas pengetahuan maupun keterampilan/skil di bidang perpustakaaan secara profesional. Seperti tuntutan gemar membaca, terampil, kreatif, cerdas, tanggap, berwawasan luas, berorientasi ke depan, mampu menyerap ilmu lain, objektif (berorientasi pada data dan fakta), generalis di satu sisi, tetapi memerlukan disiplin ilmu tertentu di pihak lain, berwawasan lingkungan, mentaati etika profesi pustakawan, mempunyai motivasi tinggi, berkarya di bidang kepustakawan, dan mampu melaksanakan penelitian dan penyuluhan. Tuntutan tersebut, menurut hemat penulis adalah kata kunci yang sebenarnya yang perlu terus-menerus diaplikasikan dalam menjalankan arti profesional. Ketiga: Aspek kepribadian dan prilaku hendaknya terus diaplikasikan dalam menjalankan tugas. Pustakawan PDII harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bermoral, mempunyai tanggung jawab sosial dan kesetiakawanan, memiliki etos kerja yang tinggi, mandiri, loyalitas tinggi terhadap profesi, luwes, komunikatif, dan bersikap suka melayani, ramah tamah dan simpatik terbuka terhadap kritik dan saran, selalu siaga dan tanggap terhadap kemajuan dan perkembangan ilmu dan teknologi, berdisiplin tinggi, dan menjunjung tinggi etika pustakawan. Keempat: Dalam mengantisipasi masa mendatang, pustakawan PDII hendaknya selalu tanggap terhadap perkembangan teknologi informasi, mengenal seluk beluk manajemen, menguasai cara-cara penyediaan informasi, dan memahami sumber-sumber informasi, serta mengetahui sistem jaringan informasi. Semua aspek di atas adalah bermuara pada peningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang perlu diusahakan baik dari pustakawan sendiri maupun peran dari pimpinan. Mengikutsertakan program pendidikan akademik ke universitas dengan program sarjana, program profesional diploma ataupun diklat-diklat bagi pustakawan PDII mutlak diperlukan. Dengan demikian profesional pustakawan PDII dapat diandalkan.

Jakarta, 15 Mei 2007

Selasa, 15 Januari 2008

Jenis Barcode Scanner untuk perpustakaan

Barcode Scanner PSCVS800

PSC VS800, Keyboard Wedge AT/PS2 or RS232 DB9 pin

The VS800 Compact Scanner was designed specifically for point of sale where space is always at a premium and where Scanner performance is a critical component of efficiency and success. The VS800 is the Scanner to choose when you need reliable full-functioned bar code scanning without sacrificing counter space. With optional mounts operators can position the Scanner at various angles to create a work environment that is highly convenient comfortable and productive. Using an advanced visible laser diode scanning system the VS800 offers a large 8"" (20cm) depth of field and wide scan area for high performance and hands-free scanning. With PSC's patented Edge software and enhanced decoding capabilities the VS800 is fast and delivers very high first pass read rates on a variety of bar codes including labels that are long truncated partially obscured or otherwise difficult to read. And it reads codes as small as 5 mils. All this means faster checkout for retail customers. This versatile Scanner autodiscriminates UPC or EAN plus 5 industrial symbologies. And the single dual or triple interfaces and extensive programming options deliver the flexibility needed to quickly and easily integrate the VS800 into your POS system.

Harga Satuan: Rp. 0
Untuk melakukan pemesanan/pertanyaan/pembelian,silakan hubungi kru Suteki langsung.

Barcode Scanner PSCQS6000

PSC QS 6000plus, Keyboard Wedge AT/PS2

PSC QS6000 hand held scanner features premium performance and durability at an affordable price.

The PSC QuickScan QS6000 barcode scanner is designed specifically for retail POS and features an unprecedented combination: the superior performance and rugged design of a high-end POS scanner and an affordable price.

Continuing PSC's commitment to quality, the PSC QS6000 QuickScan barcode scanner incorporates the most advanced, high durability features available today.

The PSC QS6000 scan motor is made from hardened metal, a substantial improvement over the plastic scan motors of the past.

The reading engine and optics are protected by anti-shock mounts built to absorb up to 2000 Gs. In fact, the PSC QS6000 QuickScan barcode scanner can withstand repeated 5 ft (152cm) drops to concrete.


Harga Satuan: Rp. 0
Untuk melakukan pemesanan/pertanyaan/pembelian,silakan hubungi kru Suteki langsung.

Barcode Scanner HHP-IT3800KBD

HHP Linear Imager IT3800, Keyboard Wedge AT/PS2 (Wo Holder)

The IMAGETEAM 3800 is a high performance hand held bar code scanner. Using unique linear imaging technology the IT3800 sets a new standard in automatic data collection by combining a bright sharp aiming line with high resolution imaging to deliver exceptional performance in any environment. The IT3800 handle is smoothly contoured to fit all sized hands and has a soft grip area to add comfort and prevent slippage. The IT3800 connects to all popular PCs Apple MAC and portable data terminals. Models are available for IBM retail terminals (4683-93 OCIA) and for PDF417 applications as well. The IT3800 is ideally suited to retail point-of-sale in-store inventory document management transaction processing and vehicle registration.

Harga Satuan: Rp. 0
Untuk melakukan pemesanan/pertanyaan/pembelian,silakan hubungi kru Suteki langsung.

Barcode Scanner HHP IT3800RS

HHP Linear Imager IT3800, RS232 DB9 pin + Cable Stealer (Wo Holder)

Harga Satuan: Rp. 0
Untuk melakukan pemesanan/pertanyaan/pembelian,silakan hubungi kru Suteki langsung.

Barcode Scanner HHP IT3800USB

HHP Linear Imager IT3800, USB (Wo Holder)

Harga Satuan: Rp. 0
Untuk melakukan pemesanan/pertanyaan/pembelian,silakan hubungi kru Suteki langsung.

Barcode Scanner SYMBOL LS 2208

The innovative LS 2208 hand-held scanner from Symbol Technologies delivers performance features at an affordable price to make your buying decision easier than ever. If you're seeking investment protection and great value in a small, light scanner that assures maximum productivity, then the LS 2208 is the ideal scanner for you.

From the checkout line to the back room, the LS 2208 helps you make the most of your application-specific solution in a variety of ways including:

  • Retail: Point of sale; in store inventory tracking
  • Healthcare: Pharmacy; inventory control
  • Education: Book checkout; inventory and asset tracking

Powerful Features Help You Get Started Fast and Reduce Costs

Getting started with the LS 2208 is fast and simple with 123Scan setup utility. This easy-to-use tool reduces startup time and costs wherever the scanner is used. To further save you money, the scan element in the LS 2208 is based on a liquid injection process that delivers integral shock protection, providing durability you can count on. These powerful features enable you to reduce downtime and keep maintenance costs to a minimum.

Create a More Productive Mobile Environment


In any industry, the high-value LS 2208 hand-held scanner offers superior performance, excellent reliability and user-friendly ergonomics to create a more productive mobile environment. And when you choose the LS 2208, you receive the added assurance of purchasing from Symbol�a company with proven solutions and millions of scanner installations worldwide.

Harga Satuan: Rp. 0
Untuk melakukan pemesanan/pertanyaan/pembelian,silakan hubungi kru Suteki langsung.

PUSAKA BUKAN SOFTWARE BIASA

>> Page 1 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
:: DAFTAR ISI
:: DAFTAR ISI ........................................................ 1
:: PUSAKA BUKAN SOFTWARE BIASA ............ 3
:: PUSAKA ONE STOP SOLUTION ...................... 4
:: SEKILAS TENTANG PUSAKA ......................... 4
:: FITUR UMUM PUSAKA ..................................... 5
:: FITUR PUSAKA ................................................. 6
Pencarian Pustaka ........................................................................... 6
Pendataan Koleksi Pustaka ............................................................. 7
Pembuatan kartu anggota, label pustaka, dan katalog ................... 8
Peminjaman dan Pengembalian Pustaka ........................................ 9
Pemesanan dan Permintaan Pustaka ............................................. 10
Lihat data Pemesanan ............................................................... 10
Lihat data Permintaan ............................................................... 11
Surat Bebas Pinjam Pustaka ......................................................... 11
Informasi ...................................................................................... 12
Rekapitulasi/Laporan Pustaka ...................................................... 12
Barcode ........................................................................................ 13
Pengadaan Koleksi ....................................................................... 14
Stock Opname .............................................................................. 14
Cadangan Data ............................................................................. 15
Lain-lain ....................................................................................... 15
:: KEMASAN PUSAKA .........................................16
:: PENGGUNA PUSAKA ......................................19
:: LAYANAN PURNA JUAL..................................19
:: ALAMAT SUTEKI-TECH ...................................19
>> Page 2 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
:.
Suteki Global Informatika
Software Developer & IT Consultant
Jl. Cikutra Barat No 104
Telp/Fax 022-2500514
suteki@suteki-tech.com
http://www.suteki-tech
:: PUSAKA BUKAN SOFTWARE BIASA
PUSAKA adalah sebuah software perpustakaan praktis yang
telah teruji keandalannya serta telah digunakan oleh berbagai
instansi terkemuka di Indonesia.
Dengan masukan informasi dari beberapa pustakawan
berpengalaman serta saran-saran praktis dari para
pustakawan dan petugas perpustakaan yang telah
menggunakan PUSAKA, tim pengembang PUSAKA kami
secara kontinu dan konsisten terus berupaya
meningkatkan kualitas sistem informasi perpustakaan yang
berbasiskan web ini.
PUSAKA dirancang khusus untuk membantu perpustakaan
dalam menjawab tantangan yang mereka hadapi dalam upaya
Dengan kelebihan-kelebihan
yang dimilikinya, PUSAKA
mampu memenuhi kebutuhan
perpustakaan dalam upaya
peningkatan pelayanan dan
menjalankan fungsinya
sebagai “agen perubahan”.
>> Page 3 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
peningkatan pelayanan dan menjalankan fungsinya sebagai
“agen perubahan”.
Selain sebagai sistem informasi perpustakaan PUSAKA dapat
menjadi pangkalan data. Sehingga memudahkan siapapun
yang terhubung ke jaringan untuk mencari pustaka yang
sesuai dengan keinginan sekaligus mendownload data – data
yang memang boleh diambil tanpa perlu datang langsung ke
perpustakaan.
PUSAKA juga didukung oleh layanan purnajual yang
profesional dan mengutamakan kepuasan
pengguna/user. Bahkan user yang berdomisli „jauh‟ dari
homebase Suteki (Bandung) sekalipun seperti di Batam,
Manado, Gorontalo, Papua dan lain-lain tetap dapat
menggunakan PUSAKA dengan „nyaman‟. Anda dapat selalu
yakin bahwa setiap pertanyaan Anda mengenai program
dan setiap bug akan kami tangani dengan baik.
Secara rutin pengguna produk SUTEKI dapat mengakses
website www.suteki-tech.com untuk mendapatkan
berita, tips dan trik seputar komputer dan informasi
terbaru mengenai PUSAKA.
:: PUSAKA ONE STOP SOLUTION
Dengan pengalaman lebih dari dua tahun melayani berbagai
perpustakaan, kami menyadari bahwa kebutuhan
perpustakaan tidak hanya sebuah sistem informasi
perpustakaan, tetapi sebuah SOLUSI INTEGRASI
KOMPUTER SIAP PAKAI.
Karena itu, PUSAKA menyediakan BARCODE READER,
Layanan PENDAMPINGAN & PELATIHAN PUSAKA, layanan
ENTRY DATA MANUAL, dan layanan MIGRASI DATA.
Anda dapat memilih dan menambah layanan yang kami
sediakan, disesuaikan dengan kebutuhan Anda.
PUSAKA menawarkan layanan:
- SOLUSI SOFTWARE
- ENTRY DATA
- MIGRASI DATA
- PELATIHAN & PENDAMPINGAN
- BARCODE SCANNER
>> Page 4 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
:: SEKILAS TENTANG PUSAKA
PUSAKA merupakan sebuah sistem informasi yang digunakan
untuk mempermudah pengelolaan perpustakan. PUSAKA
dilengkapi dengan fitur-fitur yang dapat mendukung
perpustakaan menjalankan fungsinya dengan baik, seperti
faslilitas pencarian otomatis, pendataan koleksi pustaka,
pembuatan label pustaka secara otomatis, statistik data
penting perpustakaan serta fasilitas-fasilitas lain yang dapat
meringankan beban kerja pustakawan.
Semenjak pertama kali dilaunching, PUSAKA telah mengalami
perkembangan yang sangat pesat berkat masukan/saran
dari berbagai pihak yang berkompeten di bidang
perpustakaan serta upaya pengembangan yang konsisten.
Hingga saat ini PUSAKA masih terus dikembangkan demi
memenuhi kebutuhan perpustakaan secara memuaskan.
Perpustakaan bukan sekedar „gudang buku‟, serta tugas
pustakawan bukan hanya mencatat peminjaman dan
pengembalian buku. Tugas pustakawan sangat kompleks,
butuh ketelitian, kesabaran dan Profesionalisme.
PUSAKA SANGAT MEMAHAMI HAL ITU. PUSAKA ADALAH
SOLUSI.
:: FITUR UMUM PUSAKA
Secara garis besar fitur PUSAKA dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
 Pendataan koleksi perpustakaan
 Pengaturan koleksi, pencetakan barcode, pencetakan
bibliografi, katalog pengarang, katalog judul, katalog
subyek, label dan lain-lain.
 Pengaturan anggota perpustakaan, koleksi yang dapat
dipinjam, lama peminjaman, maksimal peminjaman, dan
pembuatan kartu anggota
 Peminjaman dan pengembalian koleksi perpustakaan
 Usulan pengadaan koleksi, proses pengadaan koleksi,
data vendor pengadaan, data pembandingan harga,
anggaran serta desiderata pengadaan koleksi.
>> Page 5 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
 Laporan statistik penggunaan koleksi, pengunjung
perpustakaan, statistik pengadaan koleksi dan lain-lain
 Pembuatan kartu bebas pustaka dan lain-lain
Seluruh fitur tersebut saling berkaitan satu sama lain, sehingga
tidak perlu melakukan proses yang tidak perlu secara berulangulang
serta memudahkan dalam pengelolaan perpustakaan.
:: FITUR PUSAKA
● Pencarian Pustaka
Metode pencarian koleksi pustaka sangat mudah dan
terstruktur sehingga pengunjung dengan cepat dapat
menemukan pustaka yang dibutuhkannya.
Dengan fasilitas ini, pengunjung dapat mencari dan melihat
data pustaka berdasarkan kata kunci dan kategori tertentu.
Metode pencarian koleksi
pustaka sangat mudah dan
terstruktur sehingga
pengunjung dengan cepat
dapat menemukan pustaka
yang dibutuhkannya.
>> Page 6 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
Informasi hasil pencarian pustaka akan ditampilkan secara
lengkap dan menarik, disertai dengan gambar cover bahan
pustaka tersebut.
Contoh tampilan hasil pencarian pustaka
● Pendataan Koleksi Pustaka
Proses pendataan bahan pustaka telah terstruktur secara
sistematis sehingga cukup dengan sekali memasukkan data
pustaka, data tersebut dapat digunakan untuk berbagai
keperluan perpustakaan yang lainnya.
Cara memasukkan data yang sudah terstruktur pada saat awal
akan semakin memudahkan operator melakukan
pengelompokan koleksi. Operator tinggal memilih jenis koleksi
yang akan ditambahkan.
Informasi hasil pencarian
pustaka akan ditampilkan
secara lengkap dan menarik.
Proses pendataan bahan
pustaka terstruktur secara
sistematis sehingga cukup
dengan sekali memasukkan
data pustaka, data tersebut
dapat digunakan untuk
berbagai keperluan
perpustakaan.
>> Page 7 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
● Pembuatan kartu anggota, label pustaka, dan
katalog
Kartu Anggota
PUSAKA menyediakan fasilitas untuk merancang dan
mencetak kartu anggota perpustakaan. Proses pembuatan
dan perancangannya sangat praktis dan mudah.
Label Pustaka
Pembuatan label pustaka dan katalog merupakan salah
satu pekerjaan yang sangat memakan waktu dan
membosankan bagi pengelola perpustakaan, karena masih
dibuat dengan cara manual. PUSAKA akan meringankan kerja
operator perpustakaan dalam membuat label buku yang rapi
dan sesuai dengan standard pelabelan pustaka dalam waktu
singkat.
Print Bibliografi
Kartu anggota dapat
dirancang dan dicetak sendiri
dengan praktis dan mudah
Pembuatan label pustaka
dan katalog merupakan
salah satu pekerjaan yang
sangat memakan waktu dan
membosankan bagi
pengelola perpustakaan.
>> Page 8 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
Print Label Naskah Print Label Buku
Print Label CD
Print Label Barcode
Katalog Pengarang
Kartu Judul
PUSAKA akan meringankan
kerja pustakawan dalam
membuat label buku yang
rapi dan sesuai dengan
standard pelabelan pustaka
dalam waktu singkat.
>> Page 9 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
● Peminjaman dan Pengembalian Pustaka
PUSAKA membuat proses peminjaman dan pengembalian
bahan pustaka lebih mudah dan cepat. Disamping pendataan
otomatis hasil pencatatan peminjaman atau pengembalian
pustaka, PUSAKA juga akan memberikan informasi tentang
pustaka yang belum dikembalikan anggota serta perhitungan
denda atas keterlambatan pengembalian.
Anggota yang dapat melakukan peminjaman pustaka adalah
Anggota yang tidak dalam status Blacklist atau anggota yang
masa aktif keanggotaannya belum habis.
Kolom denda akan terisi secara otomatis sesuai dengan lama
keterlambatan. Hari libur tidak dikenakan denda, oleh karena
itu disediakan fasilitas untuk pengaturan informasi hari libur.
● Pemesanan dan Permintaan Pustaka
PUSAKA membuat layanan atas pemesanan maupun
permintaan pengadaan bahan pustaka menjadi terdata dengan
baik sehingga dapat segera ditindak lanjuti dengan
semestinya.
Lihat data Pemesanan
Fasilitas ini digunakan untuk melihat atau mencetak data
pemesanan pustaka.
PUSAKA juga akan
memberikan informasi tentang
pustaka yang belum
dikembalikan anggota serta
perhitungan denda atas
keterlambatan pengembalian.
PUSAKA membuat proses
peminjaman dan pengembalian
bahan pustaka lebih mudah dan
cepat.
>> Page 10 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
Lihat data Permintaan
Fasilitas ini digunakan untuk melihat atau mencetak data
permintaan pengadaan bahan pustaka.
● Surat Bebas Pinjam Pustaka
Surat bebas peminjaman pustaka merupakan bukti bahwa
anggota yang bersangkutan tidak sedang meminjam koleksi
pustaka atau telah mengembalikan semua koleksi pustaka
yang dipinjamnya.
Surat bebas peminjaman pustaka biasanya diberlakukan oleh
institusi pendidikan, misal perguruan tinggi, sebagai syarat
bagi mahasiswa yang telah lulus untuk mengambil ijazah dan
transkrip nilai mereka.
PUSAKA membuat layanan
atas pemesanan maupun
permintaan pengadaan bahan
pustaka menjadi terdata
dengan baik sehingga dapat
segera ditindak lanjuti dengan
semestinya.
Surat bebas peminjaman
pustaka biasanya
diberlakukan oleh institusi
pendidikan, misal
perguruan tinggi, sebagai
syarat bagi mahasiswa
yang telah lulus untuk
mengambil ijazah dan
transkrip nilai mereka.
>> Page 11 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
Secara manual pembuatan surat bebas pustaka ini akan
memakan waktu yang cukup lama, karena pihak perpustakaan
harus memastikan terlebih dahulu bahwa anggota
perpustakaan yang bersangkutan benar-benar telah
mengembalikan seluruh koleksi perpustakaan yang dipinjam.
PUSAKA membuat proses ini menjadi lebih mudah dan cepat.
● Informasi
Melalui media informasi, pengunjung dapat melihat beritaberita
terbaru seputar pustaka yang tersedia atau informasi
lain yang berkenaan dengan perpustakaan.
Informasi lain dapat diakses melalui kotak LINK INFORMASI
yang terletak pada bagian bawah sub menu atau kotak login di
bagian kiri layar.
● Rekapitulasi/Laporan Pustaka
PUSAKA menyediakan fasilitas khusus bagi pengelola
perpustakaan untuk mempermudah pembuatan laporanlaporan
dan rekapitulasi yang berkenaan dengan pengelolaan
perpustakaan. Terdapat berbagai jenis laporan/rekapitulasi
yang dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan pengelola
perpustakaan.
Secara manual pembuatan
surat bebas pustaka ini
akan memakan waktu
yang cukup lama. PUSAKA
membuat proses ini
menjadi lebih mudah dan
cepat.
PUSAKA menyediakan fasilitas
khusus bagi pustakawan untuk
mempermudah pembuatan
laporan-laporan dan
rekapitulasi yang berkenaan
dengan pengelolaan
perpustakaan.
>> Page 12 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
● Barcode
PUSAKA dapat mensupport penggunaan barcode dalam
pengelolaan perpustakaan. Penggunaan barcode akan
mempercepat proses pelayanan perpustakaan karena
pustakawan tidak perlu mengetikan data pustaka atau
anggota perpustakaan secara manual.
Penggunaan barcode akan
mempercepat proses
pelayanan perpustakaan.
>> Page 13 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
PUSAKA juga telah dilengkapi dengan fitur untuk pencetakan
label barcode.
● Pengadaan Koleksi
Untuk semakin mempermudah pengelolaan perpustakaan, kini
PUSAKA dilengkapi dengan laporan logistik pengadaan koleksi.
Pengadaan ini bersal dari usulan masing – masing program
study yang dapat langsung diproses.
● Stock Opname
Stock opname digunakan untuk melakukan pemeriksaan
terhadap kondisi koleksi perpustakaan. Proses stock opname
sangat mudah dan cepat; koleksi cukup di scan/tembak
dengan barcode scanner.
>> Page 14 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
Proses stock opname
Contoh laporan stock opname
● Cadangan Data
Fasilitas cadangan data digunakan untuk membuat back up
data perpustakaan, back up data ini sebaiknya disalin ke
media penyimpanan lain seperti CD, DVD, Hard Disk dan lainlain
sehingga dapat disimpan dengan aman dan dapat
digunakan sewaktu-waktu bila diperlukan.
PUSAKA menyediakan fasilitas penyimpanan data secara
manual dan otomatis. Cadangan data otomatis diperlukan
agar data dapat tetap di back up walaupun petugas lupa
memback up nya secara manual.
Contoh form konfigurasi cadangan otomatis
Cadangan otomatis akan membuat back up data pada periode
waktu yang diinginkan.
Cadangan data otomatis
diperlukan agar data dapat
tetap di back up walaupun
petugas lupa memback up
nya secara manual.
>> Page 15 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
● Lain-lain
Selain fitur-fitur PUSAKA yang telah disampaikan diatas, masih
tedapat berbagai fitur bermanfaat lainnya yang terdapat di
PUSAKA, seperti:
 Forum diskusi
 Pengelolaan data anggota
 Pengelolaan data operator
 Password
 Pengubahan tampilan PUSAKA
 Indeks materi dan indeks gambar
 Dan lain-lain
:: KEMASAN PUSAKA
Program PUSAKA ini masih dapat di kustomisasi sesuai dengan
kebutuhan instansi Anda. Kutomisasi pada program PUSAKA
akan dikenakan biaya tambahan, penetuan biaya tambahan
disesuaikan dengan tingkat kesulitan pembuatan dan
kesepakatan kedua belah pihak.
Tersedia beberapa layanan yang dilampirkan dalam proposal
ini. Pada halaman berikut adalah fitur-fitur yang ditawarkan
untuk masing – masing paket.
>> Page 16 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
Paket Software PUSAKA
FITUR
Platinum
Gold
Silver
Standar
Pelayanan Koleksi
Peminjaman Koleksi Y Y Y Y
Pengembalian Koleksi Y Y Y Y
Pemesanan Koleksi Y Y N N
Pembatalan Pesanan Koleksi Y N N N
Permintaan Koleksi Y Y N N
Penelusuran Koleksi Y Y Y Y
Penelusuran peminjaman Y Y Y Y
Laporan pelayanan (peminjaman) Y Y N N
Laporan Referensi (baca di tempat) Y N N N
Laporan Koleksi dan Statistik
Laporan Pengadaan Koleksi Y N N N
Laporan Pengadaan Jurnal Y N N N
Statistik koleksi Y N N N
Statistik Peminjaman Y Y N N
Laporan Rekapitulasi Y N N N
Laporan Koleksi Masuk Y N N N
Laporan Koleksi dipinjam Y N N N
Laporan Koleksi dipesan Y Y N N
Laporan Pemasukan Y Y N N
Cetak Buku Katalog Y Y N N
Statistik Pengunjung Y N N N
Statistik Anggota Y N N N
Statistik Koleksi dipinjam Y Y N N
Pencetakan Label
Bibliografi Y Y N N
Punggung Buku Y Y Y Y
Naskah Y Y N N
CD Y Y N N
Barcode Y Y Y N
Katalog Pengarang Y Y Y Y
Kartu Judul Y Y N N
Kartu Subjek Y Y N N
Pemrosesan Koleksi
Pemrosesan Koleksi Baru Y N N N
Tambah Koleksi Y Y Y Y
Update Koleksi Y Y Y Y
Laporan Jumlah Total Buku Y Y N N
Laporan Data Stok Opname Y N N N
Pemrosesan Stok Opname Y N N N
>> Page 17 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
FITUR
Platinum
Gold
Silver
Standar
Operator
Pengelolaan Data Operator Y Y Y Y
Anggota
Data Anggota Y Y Y Y
Foto Anggota Y Y Y N
Kartu Anggota Y Y N N
Laporan Keanggotaan Y Y N N
Surat Bebas Pinjam Y Y Y N
Statistik Anggota Y N N N
Cadangan Data
Cadangan Otomatis Y Y Y N
Cadangan Manual Y Y Y Y
Restore Data Y Y Y Y
Perbaiki Tabel Data Y Y Y Y
Tampilan
Ubah Tampilan Y Y N N
Manajemen Informasi Y Y Y N
Info Instansi Y Y Y Y
Halaman Depan Y Y Y N
Forum Y Y N N
Data Per Halaman Y Y Y N
Layanan disaian tampilan (1 jenis
tampilan)
Y
N
N
N
Pengaturan
Manajemen Hari Libur Y Y N N
Manajemen Anggota Y Y Y N
Jenis Koleksi Y Y Y Y
Jenis Gambar Y Y N N
Jenis Materi Y Y N N
Ganti Password Y Y Y Y
Setting hak akses anggota terhadap
jenis koleksi tertentu
Y
N
N
N
Ubah status anggota: normal, block,
atau blacklist
Y Y Y Y
Data Fakultas Y N N N
Data Program Studi Y N N N
Data Perguruan Tinggi Y N N N
Pengadaan Koleksi
Data Anggaran Y
Data Vendor Y
Usulan Buku Y
Daftar Pembanding Harga Y
Pesanan ke Vendor Y
Daftar Buku Baru Y
Daftar Desiderata Y
Pemrosesan Buku Baru Y
>> Page 18 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
:: PENGGUNA PUSAKA
Program PUSAKA telah dimanfaatkan oleh berbagai instansi di
Indonesia, sebagian besar instansi pendidikan, untuk
mengelola perpustakaan mereka.
Berikut adalah daftar pengguna program PUSAKA:
 Departemen Teknik Penerbangan ITB
 Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Jambi
 Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Jambi
 PT. Sinergi Pustaka Indonesia, Bandung
 SMA Negeri 1 Jambi
 Universitas Cendrawasih
 Garda Oto
 Masjid Baiturrahman Batam
 Universitas Sam Ratulangi, Manado
 Harian Pikiran Rakyat, Bandung
 Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta
 Sekolah Internasional Bina Tunas Bangsa, Pluit.
 Perpustakaan STMB telkom
 Perpustakaan Indonesian Banking School (IBS)-LPPI,
Jakarta
 Program Pasca Sarjana UNPAD, Bandung
 Universitas Negeri Gorontalo
 Politeknik Kesehatan Jurusan Kebidanan Bandung
Program PUSAKA telah
dimanfaatkan oleh berbagai
instansi di Indonesia untuk
mengelola perpustakaan
mereka.
>> Page 19 of 19 --- s u t e k i – t e c h -------
:: LAYANAN PURNA JUAL
1. Perbaikan secara cuma-cuma bila terdapat bug
(kesalahan).
2. Konsultasi gratis melalui email, telepon, atau SMS
mengenai produk yang digunakan.
3. Kustomisasi perangkat lunak yang masih dimungkinkan
akan dikenakan biaya tambahan sesuai dengan tingkat
kesulitan perubahan yang diminta.
:: ALAMAT SUTEKI-TECH
Untuk memperoleh informasi lebih lanjut, anda dapat
menghubungi:
Marketing executive kami:
Diah Priharsari (08122255239)
Devid Hardi (081310931528)
Habib Rahman Hakim (081374375111)
Yahoo Messenger :
priharsari@yahoo.com
dvh_me49@yahoo.com
Kantor Pusat SUTEKI
Jl. Cikutra Barat 104 Bandung
Fax/telp : 022 - 2500514
atau melalui
email di suteki@suteki-tech.com
situs web http://suteki-tech.com
http://www.suteki.co.id/pusaka/download/file/pusaka2007.pdf

MANAJEMEN PERPUSTAKAAN DIGITAL

SINOPSIS
MANAJEMEN PERPUSTAKAAN DIGITAL
Oleh: Sismanto, M.KPd.

Manajemen Perpustakaan Konvensional
Masalah utama yang di hadapi bangsa kita, khususnya dalam bidang
pendidikan dalam menghadapi era globalisasi (terutama pasar global)
adalah rendahnya tingkat kualitas sumberdaya manusia. Kecenderungan
ini menuntut kita agar lebih proaktif dalam meningkatkan
profesionalime tenaga kerja dalam bidang pendidikan (pustakawan).
Hanya dengan tingkat kemampuan profesionalisme yang handal, dapat
mempengaruhi budaya pendidikan dari menejemen sumberdaya manusia yang
tradisonal menuju menejemen yang lebih modern.
Pengembangan dan peningkatan mutu profesionalitas di Indonesia
bukanlah persoalan mudah dan jangka pendek, melainkan persoalan pelik
dan jangka penjang. Oleh karena itu, baik SDM perpustakaan maupun
masyarakat dan pemerintah harus bersinergi dan berkomitmen untuk
mengembangkan dan meningkatkan mutu profesionalitas SDM perpustakaan.
Hal ini harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak boleh hanya sekali
jadi, karena profesionalitas terus berkembang, tidak pernah mengenal
kata berhenti. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya
manusia adalah pengembangan minat baca dan kebiasaan membaca.
Perpustakaan diharapkan sebagai pusat kegiatan pengembangan minat baca
dan kebiasaan membaca. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber
daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara
terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses
pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam
menjalani era globalisasi tersebut dengan cara manajemen perpustakaan
dengan baik.
Kaitannya dengan manajemen, dahulu kala manajemen digunakan dalam
istilah bisnis, akan tetapi dewasa ini kata manajemen seringkali
digunakan dalam istilah pendidikan (manajemen pendidikan). Dari sini
saya ingin menguraikan manajemen sekolah yang lebih sempit (baca
perpustakaan).
Kata manajemen telah menjadi kosakata bahasa Indonesia dan telah
menjadi bahan pencaturan sehari-hari. Banyak orang yang menyatakannya
dalam makna yang tepat tapi banyak pula orang yang menyatakannya tanpa
tahu makna apa sebenarnya kata manajemen tersebut. Secara ringkas
dapat dikatakan manajemen adalah ilmu dan seni meramu sumberdaya
organisasi sehingga bisa dicapai hasil yang semaksimal mungkin.
Manajemen disebut sebagai ilmu, sebab manajemen memang bisa
dipelajari, diteliti, dan dilakukan secara ilmiah. Hanya saja gaya
seseorang dalam melakukan manajemen tidak sama dengan orang lain,
misalnya: resep rawon, sate, pecel, dan sebagainya pasti mengandung
bahan-bahan sehingga masakan tersebut bisa disebut rawon, sate atau
pecel. Akan tetapi rawon nguling akan berbeda dengan rawon masakan
kita sendiri. Itulah barangkali yang disebut dengan manajemen sebagai
suatu seni.
Dalam kaitannya dengan perpustakaan, maka bisa dikatakan bahwa
manajemen perpustakaan yang dilakukan oleh sebuah lembaga akan berbeda
dengan lembaga yang lain, namun tetap ada ciri-ciri utama yang sama
yang bisa membuat manajemen perpustakaan berhasil.
Kelemahan umum kita dalam mengelola organisasi adalah terlalu banyak
seninya dibanding dengan ilmunya, sehingga gaya manajemen yang
dilakukan bersifat mencoba-coba (trial and eror).
Kelemahan kedua, adalah penerapan manajemen "gotong royong" artinya
semua orang melakukan semua pekerjaan, tidak ada pembagian kerja yang
tegas dan jelas, sehingga proses manajemen tidak berlangsung secara
efektif dan efisien. Bahkan sering terjadi benturan antara satu unit
dengan unit lainnya, sehingga menyebabkan pendayagunaan sumberdaya
organisasi tidak secara sinergis dan banyak pemborosan. Dalam hal ini
yang terjadi adalah sama-sama bekerja, tetapi bukan kerjasama.
Kelemahan ketiga adalah gaya manajemen "tukang cukur", yaitu satu
orang melakukan semua pekerjaan, mulai dari membuka kios, menyapu,
memotong rambut, menutup kios, dan mengelola keuangan sekaligus. Dalam
organisasi banyak orang yang "merasa" dirinya mampu dalam segala hal
(ngabehi) dan tidak memberikan porsi pekerjaan kepada orang lain.
Akibatnya organisasi yang semestinya dapat menjalankan beban pekerjaan
yang lebih banyak, justru tidak dapat melakukan pekerjaan karena
tersentralisasi di tangan beberapa orang saja, sedang yang lain justru
kurang pekerjaan.
Kelemahan lain adalah manajemen "sungkanisme", yaitu suatu manajemen
yang tidak asertif. Budaya sungkan (segan) menegur kesalahan teman dan
budaya marah kalau ditegur teman membuat organisasi berjalan kesana-
kemari tak tentu arah, sehingga tak bisa mencapai tujuan yang
dikehendaki.
Atas dasar kelemahan-kelemahan umum (termasuk dalam mengelola
perpustakaan) tersebut diatas, marilah kita bahas bersama "sekilas
tentang manajemen perpustakaan".
Memanage atau mengelola perpustakaan artinya mengatur agar seluruh
potensi perpustakaan berfungsi secara optimal dalam mendukung
tercapainya tujuan perpustakaan. Jadi kepala perpustakaan mengatur
agar konsumen dan staf lainnya mau bekerja secara optimal, dengan
mendayagunakan sarana/prasarana yang dimiliki serta potensi masyarakat
demi mendukung ketercapaian tujuan perpustakaan.
Agar manajemen suatu organisasi bisa berjalan dengan berhasil, paling
tidak ada 4 (empat) unsur pokok manajemen yang harus dilakukan, yaitu:
(1) perencanaan/ planning; (2) organisasian/ organizing; (3)
pelaksanaan/ actuating; dan (4) pengendalian/ controlling. Keempat
unsur tersebut sering disingkat POAC, yaitu singkatan dari Planning,
Organizing, Actuating, dan Controlling.

Peran dan Fungsi Perpustakaan
Perpustakaan bertujuan memberi bantuan bahan pustaka yang diperlukan
oleh para pemakai. Tujuan perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:
(1) agar timbul kecintaan terhadap membaca, memupuk kesadaran
membaca dan menanamkan kebiasaan membaca, (2) membimbing dan
mempercepat penguasaan teknik membaca, (3) memperluas dan memperdalam
pengalaman belajar, (4) membantu perkembangan percapakan bahasa dan
daya pikir murid, (5) dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka
secara baik, (6) memberikan dasar-dasar kemampuan penelusuran
informasi, dan (7) memberikan dasar-dasar kemampuan ke arah studi
sendiri.
Selain itu, tujuan perpustakaan sekolah juga untuk menunjang proses
kegiatan belajar mengajar di sekolah yang bersangkutan. perpustakaan
sekolah memiliki peran penting dalam memacu tercapainya tujuan
pendidikan di sekolah. Dengan demikian perpustakaan sekolah merupakan
suatu unit kerja dari sebuah lembaga persekolahan yang berupa tempat
menyimpan koleksi bahan pustaka penunjang proses pendidikan yang
diatur secara sistematis. tujuannya adalah untuk digunakan secara
berkesinambungan sebagai sumber informasi untuk mengembangkan dan
memperdalam pengetahuan baik oleh guru, siswa maupun warga sekolah.
Keberadaan perpustakaan sekolah juga memiliki manfaat. Secara rinci
manfaat perpustakaan sekolah, baik yang diselenggarakan di tingkat
sekolah dasar, menengah, maupun perguruan tinggi sebagaimana
dikemukakan oleh Bafadal, adalah sebagai berikut.
1. Perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan murid-murid
terhadap membaca.
2. Perpustakaan sekolah dapat memperkaya pengalaman belajar murid-
murid.
3. Perpustakaan sekolah dapat menanamkan kebiasaan membaca.
4. Perpustakaan sekolah dapat mempercepat penguasaan teknik membaca.
5. Perpustakaan sekolah dapat melatih murid-murid ke arah tanggung
jawab.
6. Perpustakaan sekolah dapat memperlancar murid-murid dalam
menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
7. Perpustakan sekolah dapat membantu guru-guru menemukan sumber-
sumber pengajaran.
8. Perpustakaan sekolah dapat membantu murid-murid, guru-guru, dan
anggota staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Jika dikaitkan dengan segi pelayanan, perpustakaan tidak hanya
terbatas di ruangan atau gedung saja, tetapi juga pelayanan sampai
pada tingkat kelas. Secara umum tujuan perpustakaan sebagai fungsi
pelayanan adalah sebagai berikut:
1. Memupuk kegemaran dan kebiasaan membaca.
2. Membantu mengembangkan ketrampilan berbahasa baik bahasa sendri
maupun bahasa lainnya.
3. Membantu anak didik mengembangkan minat, bakat, serta kegemaran
4. Membantu anak didik agar dapat menggunaan dan memanfaatkan bahan-
bahan pustaka secara baik.
5. Membimbing anak didik untuk belajar bagaimana menggunakan dan
memanfaatkan perpustakaan secara efektif dan efisien terutama dalam
menelusuri bahan pustaka yang diinginkan.
Sedangkan menurut Andoyo, tujuan perpustakaan sekolah adalah membantu
meningkatkan pengetahuan, ketrampilan serta nilai dan sikap hidup
siswa dan guru dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Sumpeno,
menyatakan bahwa fungsi perpustakaan adalah sebagai berikut: (1)
fungsi informasi, (2) fungsi pendidikan, (3) fungsi administrasi, (4)
fungsi rekreatif, (5) fungsi sosial, dan (6) fungsi riset.
Perpustakaan sekolah menyediakan berbagai informasi yang meliputi
bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya agar siswa dapat:
1. Mengambil berbagai ide dari buku yang ditulis oleh para ahli dari
berbagai bidang ilmu.
2. Menumbuhkan rasa percaya diri dalam menyerap informasi dalam
berbagai bidang serta mempunyai kesempatan untuk dapat memilih
informasi yang layak yang sesuai dengan kebutuhannya.
3. Memperoleh kesempatan untuk mendapatkan berbagai informasi yang
tersedia di peprustakaan dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
4. Memperoleh informasi yang tersedia di perpustakaan untuk
memmecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari di
masyarakat.
Pendapat serupa juga dikemukan oleh Darmono, bahwa perpustakaan
sekolah sangat diperlukan keberadaannya dengan pertimbangan sebagai
berikut:
1. Perpustakaan merupakan sumber belajar.
2. Merupakan salah satu komponen sistem instruksional.
3. Sumber untuk penunjang peningkatan kualitas dan pembelajaran
4. Sebagai laboratorium belajar yang memungkinkan peserta didik dapat
mempertajam dan memperluas kemampuan untuk membaca, menulis, berpikir
dan berkomunikasi.
Dalam kaitannya dengan sumber belajar, maka perpustakaan merupakan
salah satu dari beberapa sumber belajar yang ada di lingkungan
sekolah. Secara organisatoris persekolahan, perpustakaan cenderung
berada di bawah koordinasi pusat suber belajar (PSB) yang
dikoordinatori oleh koordinator PSB. Namun demikian, ada juga
perpustakaan sekolah yang secara langsung berada di bawah kepala
sekolah sebagai badan otonom dan bertanggungjawab langsung kepada
kepala sekolah.
Model yang kedua di atas, umumnya dikembangkan oleh sekolah yang
mengerti dan sadar betul akan pentingnya peran dan fungsi
perpustakaan. Mengingat, dengan berada dibawah komando langsung
pemegang kebijakan di tingkat satuan pendidikan sehingga secara
operasional manajemen lebih baik, penambahan koleksi, dan pengembangan
perpustakaan jauh lebih terarah daripada berada di bawah koordinasi
Pusat Sumber Belajar (PSB). Namun demikian, kedua model di atas tidak
terjadi perbedaan yang menyolok, baik dari segi aktifitas maupun
pengembangannya, dengan catatan bahwa perpustakaan harus dikelola
secara proporsional dan sistem manajerial yang handal.

Perpustakaan Ideal
Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga
tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku
maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara
sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai
sumber informasi oleh setiap pemakainya. Sedangkan Soetopo (2002),
mengatakan perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang
diselenggarakan di sekolah yang bermaksud menunjang program belajar
mengajar di lembaga pendidikan formal. Perpustakaan adalah suatu unit
kerja yang menyelenggarakan pengumpulan, penyimpanan dan pemeliharaan
berbagai jenis bahan pustaka, dikelola secara sistematis untuk
digunakan sebagai informasi bagi pemakai perpustakaan.
Sebagai salah satu unsur penunjang dalam penyelenggaraan kegiatan
pendidikan di sekolah adalah perpustakaan sekolah. Perpustakaan adalah
salah satu lembaga pendidikan non formal merupakan pusat informasi,
sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, rekreasi serta pelestarian
khasanah budaya bangsa.
Banyak sekolah yang masih belum mempunyai perpustakaan dan ada
sebagaian yang kondisinya sangat menyedihkan. Perkembangan
perpustakaan belum optimal dikarenakan faktor dana, membaca belum
membudaya di kalangan masyarakat Indonesia serta tenaga perpustakaan
yang kurang kompeten di bidangnya. Namun demikian, harus diakui bahwa
profesi pustakawan belum sepenuhnya diakui oleh masyarakat karena
mereka secara langsung belum mendapatkan manfaat dan jasa dari
pustakawan secara optimal.
Kebijakan pemerintah tersebut tidak diiringi pengawasan terhadap
kinerja pustakawan, sehingga berdampak pada kinerja, mutu dan kualitas
pustakwan semakin berkurang dan cenderung menurun. Oleh karena itu,
perlu dilakukan suatu upaya peningkatan mutu dan kualitas pustakawan
dengan jalan mengadakan seminar, diskusi, pelatihan, dan pendidikan
bagi pustakawan.
Pembinaan dan pengembangan sumber daya Manusia (pustakawan) sebagai
upaya untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan perpustakaan untuk
saling tukar informasi serta pengembangan kemampuan dan kreatifitas
antara para peserta. Disamping itu pembinaan ini juga dimaksudkan
untuk menciptakan kesamaan pandang akan pentingnya fungsi
perpustakaan. Diantara fungsi perpustakaan adalah sebagai penyimpan,
pendidikan, penelitian, informasi, dan rekreasi kultural.
Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia adalah
pengembangan minat baca dan kebiasaan membaca. Perpustakaan diharapkan
sebagai pusat kegiatan pengembangan minat baca dan kebiasaan membaca,
sehingga semakin disadari bahwa masyarakat gemar membaca (reading
society) merupakan persyaratan dalam mewujudkan masyarakat gemar
belajar (learning society) yang merupakan salah satu ciri masyarakat
maju dan beradab.
Menurut Soetopo, perpustakaan yang ideal harus memenuhi pedoman-
pedoman diantaranya adalah lokasi, tata ruang, administrasi, pelayanan
terhadap anggotanya dan koleksi buku-buku perpustakaan. Sedangkan
menurut Rachmananta, perpustakaan dikatakan ideal apabila memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut:
a). Berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan
jenisnya
b). Selalu meningkatkan mutu melalui pelatihan-pelatihan bagi tenaga
pustakawan
c). Melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerja sama baik
dalam negeri maupun luar negeri
d). Melakukan upaya-upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan
terus menerus dari segi sistem menejemen dan teknis operasional.
Standar perpustakaan sekolah sangat berhubungan erat dengan keadaan
sekolah yang memiliki program pendidikan dan pengajaran. Setiap negara
menentukan syarat-sayarat ataupun patokan yang dijadikan dasar dalam
pelaksanaan kegiatan perpustakaan.

Perpustakaan Sebagai Pusat Pengembangan Membaca
Salah satu upaya pengembangan minat dan kegemaran membaca adalah
dengan adanya distribusi buku. buku merupakan salah satu syarat mutlak
yang diperlukan untuk pengembangan program ini, khususnya bagi anak-
anak kecil yang tentunya belum begitu banyak mengenal teknologi
informasi. Artinya, bahwa fungsi buku memberikan tempat tersendiri
bagi perkembangan anak.hal inilah yang kemudian berimplikasi pada
semakin maraknya industri perbukuan/penerbit di Indonesia secara
khusus dan dunia perbukuan secara global.
Industri perbukuan yang dikemukakakan oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Bapak Wardiman Djojonegoro yang dikutip oleh Paembonan,
bahwa ada 4 (empat) pilar utama yang ada dalam industri perbukuan. 4
pilar utama tersebut, yaitu: (1) pengarang, (2) penerbit (maupun
percetakan), (3) distributor, dan (4) konsumen.
Berangkat dari keempat pilar tersebut kemudian dielaborasi menjadi
beberapa varian yang mendukung perkembangan industri perbukuan.
Pertama, pengarang merupakan pilar utama yang harus ada dalam
penggalakkan industri perbukuan. Penggalakkan upaya pengembangan dan
perkembangan perbukuan nasional diharapkan adanya adanya pengarang/
penulis berbakat dan hasil karya yang berupa buku-buku yang
berkualitas, jurnal, dan semisalnya. Sehingga memberi peluang kepada
penulis-penulis ataupun pengarang-pengarang untuk mengembangkan
potensinya.
Kedua, selain adanya pengarang juga dibutuhkan adanya penerbit yang
bersinergi dengan pengarang. Pengarang menghasilkan karya, sedangkan
penerbit berfungs menerbitkan hasil karya pengarang. Namun tidak
dapat dinafikan, sulitnya pengarag menembus ketatnya persaingan dalam
menerbitkan karya, mengindikasikan bahwa hanya karya-karya bermutu dan
berkualitas sajalah yang layak terbit. Sehingga, dibutuhkan suatu
wahana untuk memuluskan hasil karya anak bangsa ini misalnya
ditelorkannya kebijakan pemerintah menerbitkan karya tersebut walaupun
hanya sekedar sebagai prototif buku-buku "drop-dropan" dari pemerintah
dengan catatan karya tersebut sesuai dengan budaya, corak, dan
kebutuhan sekolah penerima.
Ketiga, distributor ini merupakan kepanjangan tangan dari penerbit dan
pengarang untuk mendistribusikan hasil terbitan penerbit yang
bersangkutan. Dan keempat, adalah konsumen yang menjadi objek dalam
pengembangan dan perkembangan industri perbukuan. Konsumen membeli
buku-buku yang mereka perlukan. Jika anak sudah dbiasakan membaca di
usia dini, maka sudah barang tentu ide besar Wardiman Djojonegoro akan
menjadi sebuah kenyataan.

Managemen Perpustakaan Digital
Perpustakaan sekolah mempunyai tanggungjawab yang besar terhadap
peningkatan dan pengembangan minat dan kegemaran membaca, baik itu
untuk peserta didik ataupun guru maupun karyawan yang menginginkan
informasi dari perpustakaan. Hal ini dilatari oleh peran dan fungsi
perpustakaan sebagai pusat pengembangan minat baca.
Perkembangan informasi global semakin tampak dirasakan oleh
masyarakat, baik dalam kebutuhan barang, layanan maupun jasa.
Kebutuhan akan layanan yang prima tentunya membutuhkan suatu manajemen
dan perangkat yang berkelas. Dan salah satu alternatif yang saat ini
lagi menjadi komoditi publik adalah berkembangnya penggunaan teknologi
informasi yang bersinergi dengan operasional manajemen perpustakaan.
Teknologi informasi mampu menyalurkan data dalam jumlah sangat besar
dan waktu sangat cepat berupa data berbentuk suara, gambar, dan teks,
atau data dalam multimedia. Erat kaitannya dengan hubungan kerja sama
yang saling dapat memanfaatkan sumber daya tadi, maka terhadap adanya
pendapat bahwa pusat studi harus didukung oleh perpustakaan yang
djadikan sebagai pusat pengembangan, hal tersebut dapat diartikaN
sebagai sekolah tidak harus mempunyai perpustakaan sendiri di mana
sekolah berada.
Hal tersebut yang dikemukakan di muka tidak lebih karena jamannya
sudah lain, mengingat jaman sekarang juga disebut dengan "The Age of
Networked Intelligence", yang dibackup oleh jaringan informasi modern
sehingga segala urusan dapat dilakukan tanpa harus berada ditempat
kegiatan dilaksanakan.
Selain menggagas tentang kemungkinan pengembangannya ke depan, maka
untuk menghindari kemungkinan terjadinya salah tafsir terhadap
kemungkinan-kemungkinan itu sejak sekarang telah diantisipasi beberapa
alternatif antara lain yang terkait dengan keberadaan perpustakaan.
Sudah selayaknya kalau ada pihak yang mendapat manfaat, pihak itu juga
harus membantu kelangsungan keberadaannya. Seperti untuk melakksanakan
fungsi pusat studi, perpustakaan ini tidak dapat bekerja sendiri, atau
mengandalkan kekuatan sendiri. Karena itu jalinan kerjasama antara
berbagai pihak secara sinergis merupakan keharusan, terlebih lagi
dalam rangka berbagi pemanfaatan sumber daya. Karena itu masyarakat
ilmu pengetahuan dunia juga diharapkan akan memberikan bantuan
terhadap keberadaannya. Dengan demikian, maka himbauan kepada semua
fihak untuk memberikan dukungan dan bantuan, bukan saja pada tahap
pembangunannya tetapi juga pada tahap operasi seterusnya, menjadi
sangat memenuhi syarat-syarat kepatutan perpustakaan secara
universal.
Beberapa hal yang mendasari pemikiran tentang perlunya dilakukannya
digitasi perpustakaan adalah sebagai berikut:
a). Perkembangan teknologi informasi di Komputer semakin membuka
peluang-peluang baru bagi pengembangan teknologi informasi
perpustakaan yang murah dan mudah diimplementasikan oleh perpustakaan
di Indonesia. Oleh karena itu, saat ini teknologi informasi sudah
menjadi keharusan bagi perpustakaan di Indonesia, terlebih untuk
mengahadapi tuntutan kebutuhan bangsa Indonesia sebuah masyarakat yang
berbasis pengetahuan - terhadap informasi di masa mendatang.
b). Perpustakaan sebagai lembaga edukatif, informatif, preservatif dan
rekreatif yang diterjemahkan sebagai bagian aktifitas ilmiah, tempat
penelitian, tempat pencarian data/informasi yang otentik, tempat
menyimpan, tempat penyelenggaraan seminar dan diskusi ilmiah, tempat
rekreasi edukatif, dan kontemplatif bagi masyarakat luas. Maka perlu
didukung dengan sistem teknologi informasi masa kini dan masa yang
akan datang yang sesuai kebutuhan untuk mengakomodir aktifitas
tersebut, sehingga informasi dari seluruh koleksi yang ada dapat
diakses oleh berbagai pihak yang membutuhkannya dari dalam maupun luar
negeri.
c). Dengan fasilitas digitasi perpustakaan, maka koleksi-koleksi yang
ada dapat dibaca/dimanfaatkan oleh masyarakat luas baik di Indonesia,
maupun dunia internasional.
d). Volume pekerjaan perpustakaan yang akan mengelola puluhan ribu
hingga ratusan ribu, bahkan bisa jutaan koleksi, dengan layanan
mencakup masyarakat sekolah (peserta didik, tenaga kependidikan, dan
masyarakat luas), sehingga perlu didukung dengan sistem otomasi yang
futuristik (punya jangkauan kedepan), sehingga selalu dapat
mempertahanan layanan yang prima.
e). Saat ini sudah banyak perpustakaan, khususnya di perguruan tinggi
dengan kemampuan dan inisiatifnya sendiri telah merintis pengembangan
teknologi informasi dengan mendigitasi perpustakaan (digital library)
dan library automation yang saat ini sudah mampu membuat Jaringan
Perpustakaan Digital Nasional (Indonesian Digital Library Network).
f) Awal adanya perpustakaan digital di Indonesia adalah eksperimen
sekelompok orang di perpustakaan pusat Institut Teknologi Bandung
(ITB). Mereka memprakarsai Jaringan Perpustakaan Digital Indonesia
bekerja sama dengan Computer Network Research Group (CNRG) dan
Knowledge Management Research Group (KMRG). Proyek ini dimaksudkan
untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi, menumbuhkan semangat
berbagi pengetahuan antar pendidikan tinggi dan lembaga penelitian
melalui pengembangan jaringan nasional perpustakaan. Proyek kecil ini
kemudian mendapat sambutan positif dari berbagai pihak sehingga marak.
Perpustakaan yang beralamat di www.indonesiadln.org itu melibatkan
seratus lembaga lebih untuk menjadi mitra dalam penyebaran pengetahuan
berupa koleksi file digital melalui jaringan internet. Para anggota,
di antaranya Litbang Depkes, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),
Magister Manajemen (MM ITB), Institut Agama Islam Negeri (IAIN),
Universitas Cendrawasih (Uncen), Papua, Universitas Tadulako (Untan),
Sulawesi Tengah, dan Universitas Yarsi, Jakarta, aktif melakukan tukar-
menukar data.

Perpustakaan Digital
Perpustakaan Digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai
layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi
tesebut melalui perangkat digital. Layanan ini diharapkan dapat
mempermudah pencarian informasi di dalam koleksi obyek informasi
seperti dokumen, gambar dan database dalam format digital dengan
cepat, tepat, dan akurat.
Menurut Widayawan, beberapa istilah yang digunakan untuk mengungkapkan
konsep perpustakaan digital seperti perpustakan elektronik,
perpustakaan maya, perpustakaan hyper, dan perpustakaan tanpa dinding.
Pada dasarnya, perpustakaan digital itu sama saja dengan perpustakaan
biasa, hanya saja memakai prosedur kerja berbasis komputer dan sumber
informasinya digital.
Jaringan informasi semacam internet memberikan kesempatan luas untuk
mengakses lembaga yang menyediakan informasi. Jaringan ini berfungsi
sebagai perpustakaan yang dinamakan perpustakaan tanpa dinding.
Perpustakaan digital itu tidak berdiri sendiri, melainkan terkait
dengan sumber-sumber lain dan pelayanan informasinya terbuka bagi
pengguna di seluruh dunia. Koleksi perpustakaan digital tidaklah
terbatas pada dokumen elektronik pengganti bentuk cetak saja, ruang
lingkup koleksinya malah sampai pada artefak digital yang tidak bisa
digantikan dalam bentuk tercetak. Koleksi menekankan pada isi
informasi, jenisnya dari dokumen tradisional sampai hasil penelusuran.
Perpustakaan ini melayani mesin, manajer informasi, dan pemakai
informasi. Semuanya ini demi mendukung manajemen koleksi, menyimpan,
pelayanan bantuan penelusuran informasi.
Gagasan perpustakaan digital ini diikuti Kantor Kementerian Riset dan
Teknologi dengan program Perpustakaan Digital yang diarahkan memberi
kemudahan akses dokumentasi data ilmiah dan teknologi dalam bentuk
digital secara terpadu dan lebih dinamis. Upaya ini dilaksanakan untuk
mendokumentasikan berbagai produk intelektual seperti tesis,
disertasi, laporan penelitian, dan juga publikasi kebijakan. Kelompok
sasaran program ini adalah unit dokumentasi dan informasi skala kecil
yang ada di kalangan institusi pemerintah, dan juga difokuskan pada
lembaga pemerintah dan swasta yang mempunyai informasi spesifik
seperti kebun raya, kebun binatang, dan museum.
Sayangnya, pertumbuhan perpustakaan digital masih dilakukan dengan
trial and error, sehingga timbul kesan pemborosan dan kesia-siaan.
Keadaan seperti ini sebenarnya bisa dikurangi sehingga menekan biaya
dan waktu yang tidak perlu, antara lain dengan survei dan studi
banding yang kuat. Kajian yang jeli pada ketersambungan dan
aksesibilitas yang erat kaitannya dengan infrastruktur informasi akan
menghindarkan kita dari kerugian karena investasi besar sia-sia.
Lahirnya perpustakaan digital di Indonesia ini disambut baik para
pengelola informasi atau pustakawan. Kebanyakan pustakawan terbuka
terhadap perubahan teknologi, tetapi juga masih mengingat fungsi
tradisional mereka, yaitu membantu orang untuk mencari informasi, baik
dalam bentuk digital atau tercetak.
Sosialisasi program perpustakaan digital terhadap para anggota
jaringan dan para pengguna itu penting. Dalam hal ini, perlu
peningkatan kesadaran akan fungsi utama mereka, yaitu memberikan
kemudahan akses pengguna terhadap informasi. Untuk mempermudah akses,
pustakawan perlu mendorong pengguna perpustakaan digital untuk melek
informasi (information literate). Pengguna perpustakaan yang seperti
ini adalah mereka yang sadar kapan memerlukan informasi dan mampu
menemukan informasi, mengevaluasinya, dan menggunakan informasi yang
dibutuhkannya itu secara efektif dan beretika

Digitasi Perpustakaan
Pada tahap pembangunan dan pemberdayaan perpustakaan, perhatian
diarahkan pada penyelesaian bangunan fisik, penyediaan sarana lainnya
seperti utilities, jaringan informasi, pengisian dengan isi materi
koleksi. Pada tahap pengembangan perpustakaan secara umum, termasuk
pengembangan fungsi dan program kegiatan, serta pengembangan koleksi
terus menerus.
Untuk kategori operasi, fokusnya makin diberikan pada pengembangan
organisasi pengelola, pengembangan sistem operasi perpustakaan,
pelaksanaan pemberian pelayanan, pembuatan program-program baru, upaya
untuk makin mandiri dengan mengurangi ketergantungan pada sumbangan,
serta mobilisasi dana dan sumber daya baik secara berkala maupun
permanen. Semua penjelasan ini adalah untuk meyakinkan semua pihak
bahwa rangkaian pekerjaan yang harus dilakukan ke depan adalah masih
sangat panjang karena itu harus dilakukan dengan sebaik-baiknya
melaldigital sinergisitas peran dan fungsi semua pihak. Untuk inilah,
himbauan dukungan dan bantuan itu disampaikan.
Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melayani 1 orang pengguna jasa
perpustakaan dalam pelayanan sirkulasi kurang lebih 3 sampai dengan 5
menit. Sedangkan, apabila menggunakan sistem komputer dibutuhkan waktu
kurang dari 30 detik. Hal ini mengindikasikan bahwa perpustakaan yang
masih menggunakan sistem konvensional kurang optimal dalam hal
pelayanan. Salah satu jawaban atas permasalahan tersebut adalah adanya
suatu aplikasi program perpustakaan yang serba komputer (perpustakaan
digital).
Digitasi perpustakaan merupakan salah satu jawaban terhadap pelayanan
sirkulasi dan pelayanan informasi yang selama ini dikeluhkan
masyarakat pengguna jasa perpustakaan. Hal ini tentunya dapat
mengeliminir image negatif terhadap perpustakaan beralih fungsi
menjadi tempat nongkrong, gosip, dan sebagainya dan bukan tidak dapat
memainkan perannya yang signifikan sebagai bagian dalam dunia
informasi, baik yang bersifat ilmiah, edukatif, rekreatif, ataupun
fungsi-fungsi lainnya.
Beberapa keunggulan perpustakaan digital diantaranya adalah sebagai
berikut: (1) long distance service, (2) akses yang mudah, (3) murah
(cost efective), (4) pemeliharaan koleksi secara digital, (5) jawaban
yang tuntas, (6) jaringan global.
Keuntungan lain dari peran perpustakaan digital adalah: (1) Manfaat
perpustakaan digital diantaranya, (2) sebagai sumber pengetahuan, (3)
media penyebaran pengetahuan, (4) untuk penyimpanan (repository), (5)
untuk perawatan/preservasi, (6) media promosi/etalase hasil karya
civitas akademika, dan (7) mencegah duplikasi dan plagiat.
Perpustakaan digital secara ekonomis lebih menguntungkan dibandingkan
dengan perpustakaan tradisional. Chapman dan Kenney (1996),
mengemukakan empat alasan yaitu: institusi dapat berbagi koleksi
digital, koleksi digital dapat mengurangi kebutuhan terhadap bahan
cetak pada tingkat lokal, penggunaannya akan meningkatkan akses
elektronik, dan nilai jangka panjang koleksi digital akan mengurangi
biaya berkaitan dengan pemeliharaan dan penyampaiannya. Di sisi lain,
Internet sebagai media dimana bahan digital tersedia, standar dan
teknologinya akan terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
Perpustakaan yang mengembangkan perpustakaan digital apabila
infrastruktur dan peralatan yang diperlukan sudah tersedia. Lankah
selanjutnya, pustakawan harus mampu mengidentifikasi sumberdaya yang
tersedia di dalam sekolah terutama sumberdaya manusia yang dapat
dijadikan mitra dalam pengembangan. Kolaborasi sebagai hubungan formal
dalam proses pengembangan mulai dari formulasi ide, perancangan,
pengujian produk hingga implementasi adalah sangat penting.
.
Prinsip-Prinsip Pengembangan Perpustakaan digital
Dalam digitasi perpustakaan, ada 2 prinsip dasar pengembangan yang
menjadi isu sentral dalam pengembangan digital library. Prinsip-
prinsip tersebut yaitu: (1) koleksinya meliputi materi dari berbagai
sumber, (2) pemakai harus disajikan suatu pandangan homogen dan
beragam sumber. Dari pandangan di atas kemudian dielaborasi menjadi
empat isu strategis yang berkaitan dengan pengembangan dan
pendayagunaan perpustakaan di lingkungan sekolah seperti berikut ini.
1. Penyediaan sarana layanan merupakan suatu keharusan untuk mendorong
peningkatan pemanfaatan Komputer yang pada gilirannya bermuara pada
peningkatan kualitas dan produktivitas warga sekolah.
2. Publikasi dengan perpustakaan digital mampu mendorong peningkatan
kualitas karya yang dihasilkan oleh warga sekolah.
3. Penyediaan infrastruktur Komputer di dalam sekolah mampu
meningkatkan efisiensi penyediaan layanan.
4. Kolaborasi antara bahan pustaka dan perpustakaan sesuai dengan
fungsinya masing-masing mampu dikembangkan dengan pelayanan informasi
berbasis Web yang sesuai dengan harapan warga sekolah.
Berdasarkan isu strategis seperti yang dikemukakan di atas dapat
dirumuskan strategi pengembangan perpustakaan digital. Setiap
perpustakaan memiliki strategi pengembangan yang berbeda satu sama
lain, tergantung pada kondisi awal masing-masing perpustakaan. Belajar
dari pengalaman perpustakaan lain akan dapat membantu dalam perumusan
strategi yang sesuai dengan kondisi masing-masing perpustakaan.
Beberapa faktor yang berpengaruh dalam perumusan strategi tersebut
antara lain adalah: (a) berapa besar perpustakaan digital yang akan
dibangun; (b) pustaka apa saja yang menjadi kebutuhan akses di dalam
sekolah; (c) komponen apa saja yang akan dibutuhkan; (d) siapa saja
praktisi yang mempunyai keahlian, (e) pengguna, (f) pengembang, (g)
tenaga teknis yang akan disertakan dalam pengembangan; dan (h) fungsi-
fungsi apa saja yang dapat didukung secara lokal atau apa saja yang
harus dipasok oleh pemasok.
Dalam sistem digitasi perpustakaan (digital library system)
dipersyaratkan berbagai unsur yang mendukung dan saling berkaitan satu
dengan yang lainnya sebagaimana ditulis oleh Arif (2003) dalam
makalahnya yang berjudul konsep dan perencanaan dalam automasi
perpustakaan. Unsur-unsur yang dimaksud adah sebagai berikut: (1)
Pengguna (user), (2) Perangkat keras (hardware), (3) Perangkat lunak
(software), (4) Data, (5) Network/LAN, dan (6) Manual/prosedur
penjelasan.
1. Pengguna (user)
2. Perangkat keras (hardware)
3. Perangkat lunak software)
4. Data
5. Network/LAN
6. Manual/prosedur penjelasan

Rencana Pendigitasian
Rencana pengembangan Perpustakaan digital harus dinyatakan secara
jelas dan detail. Rencana tersebut menjadi dasar pijakan untuk
melakukan seluruh kegiatan rutin perpustakaan. Salah satu ciri rencana
yang baik adalah bila rencana itu dirumuskan di dalam visi dan misi
Perpustakaan. Visi dan misi perpustakaan harus relevan dengan visi dan
misi sekolah. Tujuan, sasaran, dan strategi pun harus dinyatakan
secara jelas dan detail di dalam rencana strategis perpustakaan (telah
dibahas pada bagian perencanaan perpustakaan).
Selanjutnya, rencana perpustakaan yang baik harus mampu mencerminkan
kebutuhan dari seluruh stakeholder perpustakaan. Secara sederharna,
stakeholder perpustakaan dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok:
a. Personal atau kelompok yang mempengaruhi arah pengembangan
perpustakaan (kepala sekolah atau yayasan bila sekolah tersebut
swasta)
b. Pengelola perpustakaan, yakni yang melakukan pekerjaan atau tugas-
tugas perpustakaan
c. Personal atau kelompok yang menggunakan perpustakaan dan layanannya
(siswa, guru, karyawan, dan masyarakat)
Kebutuhan seluruh stakeholder harus mampu diterjemahkan dalam rencana
kerja perpustakaan yang sebelumnya diakomodir erlebih dahulu dalam
need assesment kebutuhan (meliputi analisis situasi dan perangkat yang
diperlukan), sehingga rencana kerja yang ada dilaksanakan sesuai
dengan sasaran yang ditetapkan dan memenuhi kebutuhan dan kepuasan
(stakeholder satisfication). Untuk mendukung terlaksananya rencana
perpustakaan digital tersebut, beberapa usaha yang diperlukan dapat
berupa:
1. Mengembangkan rencana strategis perpustakaan. Rencana strategis
adalah proses yang berulang yang meliputi evaluasi, pembaharuan, dan
verifikasi terhadap rencana strategis yang dibuat biasanya dilakukan 5
tahun sekali. Rencana strategis itu harus dikomunikasikan dengan
seluruh staf perpustakaan dan menjamin akan adanya dukungan penuh
dalam implementasinya.
2. Menyiapkan dan menyusun draf rencana tahunan, yang biasanya dikenal
dengan perencanaan operasional. Pengelola perpustakaan kemudian
mengkomunikasikannya, memnta persetujuan kepala sekolah dan meminta
restu dari komite sekolah. Penyusunan rencana operasional tahunan
harus melibatkan seluruh staf perpustakaan.
3. Menetapkan kebijakan perpustakaan (library policy decition) dan
standar pelaksanaan tugas-tugas perpustakaan dalam bentuk Standard
Operating Procedure (SOP).
4. Memonitor dan mengevaluasi kinerja perpustakaan (monitoring and
evaluating library performance) selama triwulan (tiga bulan sekali).
5. Membuka kotak saran yang memungkinkan seluruh pengguna perpustakaan
dapat memberikan masukan, komentar, saran, usulan, dan kritikan
terhadap penyempurnaan program kerja perpustakaan.

Sistem Berbasis Komputer di Perpustakaan
Langkah yang diperlukan dalam pembuatan dan pengembangan software yang
akan digunakan dalam perpustakaan digital, diperlukan studi banding
pada perpustakaan yang telah menggunakan software yang serupa yang
kemudian akan di setup dalam perpustakaan kita. Studi ini sangat
membantu operasional perencanaan program digitasi, disamping
memperoleh informasi pengembangan software yang digunakan oleh
perpustakaan itu, juga memperluas jaringan dengan perpustakaan yang
lain. Adapun informasi yang diperlukan dalam pengembangan sistem
berbasis komputer adalah sebagai berikut:
1. Gambaran umum tentang sistem yang akan digunakan
Sebelum mengaplikasikan program yang akan digunakan dalam
mendigitasi perpustakaan, terlebih dahulu melihat gambaran dari sistem
yang akan diigunakan. Dalam hal ini apakah sistem tersebut khusus
interal perpustakaan atau dipublikasikan melalui internet/berbasis WEB
(dari software-sofware open source) seperti yang kembangkan di
beberapa perguruan tinggi maupun instansi pemerintah.
2. Kelebihan dan kelemahan sistem yang digunakan
Dengan menggunakan analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opertunity, dan
Threat) keunggulan dan kelemahan sistem dapat teridentifikasi dengan
baik. Adapun analisis SWOT telah diuraikan pada bagian ketiga dalam
buku ini, yakni tentang manajemen perpustakaan.
3. Alternatif solusi yang dapat diterapkan.
Setiap kebijakan yang diambil akan berdampak pada nilai (value).
Nilai yang dimaksud bisa positif atau yang lebih tragis lagi bahwa
nilai tersebut berdampak negatif pada lembaga yang mengambil keputusan
tersebut. Misalnya saja terjaadi perubahan lingkungan kerja yang
dilihat dari perspektif pelayanan pengguna, perpustakaan sekolah harus
memperkenalkan suatu pelayanan baru yang berkaitan dengan akses
sumberdaya informasi dan publikasi melalui Web (sistem yang
digunakan). Layanan digital berfungsi menyediakan fasilitas dan
bimbingan penggunaan perpustakaan sekolah, mengidentifikasi berbagai
sumberdaya yang tersedia melalui sistem dan menyebarluaskannya kepada
kelompok pengguna, melakukan penelusuran atas pesanan pengguna, dan
mendigitalisasi semua koleksi perpustakaan untuk dipublikasikan
melalui sistem komputerisasi yang digunakan di perpustakaan.
4. Alokasi biaya
Alokasi biaya yang digunakan dalam penyediaan layanan digital
seperti layaknya pengenalan suatu pelayanan baru memerlukan pendanaan
baik untuk investasi awal maupun operasionalnya. Berapa besar biaya
yang diperlukan adalah tergantung pada berbagai faktor diantaranya
infrastruktur dan prasarana yang tersedia, jumlah terminal layanan
akses yang akan disediakan, jenis server yang akan digunakan, dan
tenaga pengembang yang tersedia di lingkungan sekolah.
Sumber pendanaan untuk layanan digital berasal dari anggaran
perpustakaan atau anggaran sekolah yang dialokasikan untuk
perpustakaan. Perpustakaan harus mengalokasikan biaya pengadaan
peralatan komputer dan peralatan pendukung lainnya dalam Rencana
Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPBS).

Sistem Informasi Manajemen
Dalam upaya mencapai keberhasilan, para pengelola selayaknya menyadari
pengaruh dari lingkungan perpustakaan. Perpustakaan berusaha
memperoleh keunggulan kompetitif dengan mengelola arus sumber daya
termasuk informasi. Sumber daya informasi perpustakaan mencakup lebih
dari sekedar informasi. Sumber daya tersebut mencakup pula perangkat
keras, fasilitas, perangkat lunak, data, para spesialis informasi dan
para pemakai informasi.
Kegiatan mengidentifikasi sumber daya informasi yang akan dibutuhkan
perpustakaan di masa depan, mendapatkan sumber daya tersebut, dan
mengelolanya disebut perencaaan sumber daya informasi secara strategis
(strategic planning for information resources), atau SPIR. SPIR adalah
tanggung jawab semua manajer, tetapi manajer organisasi jasa informasi
(information service) memainkan peranan penting. Jabatan CIO, yaitu
chief information officer, menjadi semakin populer untuk menggambarkan
manajer jasa informasi.
Dari semua inovasi terbaru dalam penggunaan komputer, tidak ada yang
dampaknya sebesar end-user computing. IRM adalah konsep yang
mengintegrasikan konsep-konsep keunggulan kompetitif lain, CIO, IRM,
SPIR dan end-user computing. Dengan demikian, IRM memberikan kerangka
kerja bagi pemanfaatan komputer yang efektif.
Sumber :

http://groups.google.co.id/group/kebijakan-pendidikan/browse_thread/thread/b6be3621d5328530/60d2afb07a784f36%2360d2afb07a784f36